Rektor ITS, Prof. Bambang Pramujati meminta mahasiswa terus mengembangkan pemanfaatan kelapa sawit sebagai bahan bakar campuran kendaraan bermotor. Salah satunya dengan melihat potensi bahan bakar nabati yang dicampur hingga 50 persen sebagai alternatif BBM konvensional.
Rektor Prof. Bambang Pramujati menjelaskan, tim peneliti ITS sebelumnya telah menguji campuran bahan bakar dari kelapa sawit untuk jenis gasoline atau bensin. Pada tahap awal, campuran yang digunakan mencapai 10 persen dengan bahan bakar Pertamax.
“Sekarang pengujiannya tidak berhenti di 10 persen. Saya minta tim untuk meningkatkan campuran menjadi 20, 30, 40, sampai 50 persen dengan Pertamax,” ujarnya, Jumat, 15 Mei 2025.
Menurut Bambang, pengujian tidak hanya dilakukan langsung pada mesin kendaraan. Secara akademik, riset juga dimulai dari laboratorium untuk mengkaji karakteristik material dan sifat bahan bakar campuran tersebut.
Setelah pengujian laboratorium, bahan bakar kemudian dicoba pada mesin kendaraan dalam kondisi statis. Pengujian dilakukan menggunakan dynotest untuk mensimulasikan berbagai kondisi jalan.
“Dengan dynotest, bisa disimulasikan tanjakan maupun turunan. Dari situ terlihat apakah torsi berkurang atau tidak, serta efeknya dibandingkan Pertamax murni,” kataya.
Selain performa mesin, ITS juga meneliti daya tahan penggunaan bahan bakar campuran dalam jangka panjang. Uji durability dilakukan untuk mengetahui dampak pemakaian setelah menempuh standar operasional tertentu.
Setelah pengujian selesai, mesin kendaraan akan dibongkar untuk dianalisis lebih lanjut. Peneliti akan melihat apakah muncul kerak berlebih pada komponen mesin dibandingkan penggunaan BBM murni.
“Kalau diuji di motor secara langsung, kita tidak bisa tahu dampaknya satu tahun kemudian. Karena itu, pengujian harus dilakukan menyeluruh agar hasilnya benar-benar terukur,” ucap Bambang. Bun (rri.co.id)





