Regenerasi Serangga Penyerbuk Penopang Produksi Sawit

Introduksi serangga penyerbuk memasuki babak baru. Pemerintah dan pelaku industri bekerjasama untuk pelepasan serangga penyerbuk di sentra provinsi sawit. Di tahap pertama, 200 ribu serangga penyerbuk Tanzania fase dewasa siap didistribusikan ke 11 provinsi sentra sawit.

Sejumlah pertanyaan muncul di tengah publik, kenapa introduksi serangga penyerbuk dibutuhkan lagi? Presentasi Agus Eko Prasetyo, Peneliti PPKS, menyebutkan rendahnya pembentukan buah (fruit set) mulai terjadi di provinsi sentra kelapa sawit dalam satu dekade terakhir. Ada lima faktor pendukung kesuksesan fruit set yaitu bahan tanaman, agen penyerbuk (serangga), iklim, kondisi lahan, dan praktik agronomis.

“Serangga penyerbuk di Indonesia sudah melewati 1.000 generasi yang berada di Indonesia selama 45 tahun lamanya,” kata Agus Eko yang juga Ketua Tim Teknis Penelitian Introduksi Elaeidobius.

Introduksi serangga penyerbuk pertama dilakukan pada 1982. Elaeidobius kamerunicus adalah spesies serangga penyerbuk yang pertama kali di bawa ke Indonesia. Adalah Dr. Syedpeneliti asal Malaysia, bersama Lubis dan Alimin Sipayung, peneliti dari Indonesia yang mengintroduksinya dari Kamerun. Serangga penyerbuk ini dipilih karena postur badannya kuat, tegap, dan agresif melakukan penyerbukan.

”Ada jeda waktu cukup lama sekitar 40 tahun lagi untuk kita lakukan introduksi lagi,” ujar Ketua Bidang Riset dan Pengembangan GAPKI, Dr. Dwi Asmono.

Dwi Asmono menjelaskan proses introduksi serangga penyerbuk dari Tanzania merupakan perjalanan panjang yang dirancang semenjak Agustus 2024. Kegiatan ini melibatkan banyak pihak melalui Konsorsium Elaeidobius. Terdapat beragam pemangku kepentingan seperti Kementerian Pertanian, Badan Karantina Indonesia, PT Riset Perkebunan Nusantara, PPKS, BPDP, dan asosiasi keilmuan seperti Perhimpunan Ilmu Pemuliaan dan Perbenihan Sawit Indonesia (PIPPSI) dan Perhimpunan Entomologi Indonesia.

Tim riset ini dipimpin Agus Eko Prasetyo bersama peneliti lainnya yaitu Van Basten Tambunan. Berangkat pada 4 Januari 2025, hampir empat bulan lamanya melakukan observasi dan eksplorasi spesies Elaeidobius (serangga penyerbuk).

Eksplorasi ini berlangsung di 5 wilayah di 3 distrik Tanzania (Bukoba, Kigoma, Tabora, Mbeya, dan Dar es Salaam) dengan 5 titik sampling di setiap wilayah. Selain itu juga mempertimbangkan kondisi iklim dan lahan seperti dataran rendah (10 mdpl) hingga tinggi (> 1.200 mdpl), serta variasi curah hujan rendah (< 2.000 mm) dan tinggi (> 2.000 mm).

“Sebenarnya ada 7 calon spesies Elaeidobius dari Tanzania yang akan dibawa ke Indonesia. Tetapi setelah proses seleksi akhirnya dipilihlah 3 spesies,” kata Agus Eko.

Ketiga spesies tersebut adalah  Elaeidobius Subvittatus, Elaeidobius Kamerunicus, dan Elaeidobius Plagiatus. Hasil Introduksi yang dibawa dari Tanzania berupa individu dewasa berupa larva dan pupa terdiri dari 1.924 E. subvittatus, 1.697 E. kamerunicus, dan 1.359  E. plagiatus. Setelah sampai di Indonesia pada 4 April 2025, proses karantina dilakukan di Pusat Insektarium PPKS Unit Marihat.

Kegiatan karantina mendapatkan pengawasan ketat Badan Karantina Indonesia. Legalitas introduksi serangga telah mengantongi Surat Izin Pemasukan dari Menteri Pertanian No. 76/Kpts/LB.030/M/02/2025 dan Phytosanitary Certificate TPHPA Tanzania.

Baca Juga:  Sebanyak 4.975 Ha Kelapa Sawit di Kabupaten Aceh Utara Butuh PSR

Kegiatan uji karantina berlangsung selama 9 bulan (April – Desember 2025). Adapun kegiatan pengujian meliputi  uji kemurnian meliputi identifikasi morfologi, molekuler, dan analisis metagenomik untuk memastikan bebas dari patogen OPTK A1.

Hasil introduksi ini menghasilkan populasi 200 ribu serangga penyerbuk dewasa dari ketiga spesies. Kegiatan distribusi ini akan dilakukan secara bertahap ke sejumlah sentra perkebunan sawit di 11 provinsi yaitu Aceh, Riau, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Jambi, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi Barat, dan Papua.

“Distribusi tahap pertama sebanyak 200 ribu serangga penyerbuk (dewasa). Jika kita produksi terus (serangga penyerbuk) bisa nggak terbatas pendistribusiannya,” ujar Agus Eko.

Menteri Pertanian Republik Indonesia, Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, mengapresiasi pelepasan serangga penyerbuk yang berlangsung di PPKS Marihat, Sumatera Utara, pada 9 April 2026. Introduksi ini sebagai kelanjutan dari perjalanan panjang industri sawit Indonesia.

“Selama lebih dari empat dekade, kita mengandalkan satu spesies utama, yaitu Elaeidobius kamerunicus, yang telah memberikan kontribusi besar bagi sistem penyerbukan kelapa sawit di Indonesia. Namun, dinamika agroekosistem dan perubahan lingkungan menuntut kita untuk terus beradaptasi dan melakukan penguatan sistem tersebut melalui inovasi yang berbasis sains,” ujarnya dalam sambutan yang dibacakan Direktur Perbenihan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti.

Oleh karena itu, langkah introduksi serangga penyerbuk asal Tanzania ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mendorong transformasi sistem produksi kelapa sawit yang lebih efisien, produktif, dan berkelanjutan.

Ia menambahkan, keberadaan serangga penyerbuk tersebut dinilai mampu menekan biaya dalam kegiatan budi daya, khususnya pada aspek penyerbukan, sehingga mendukung efisiensi di sektor perkebunan kelapa sawit.

Ketua Umum GAPKI Eddy Martono, menilai momentum ini sebagai simbol kesinambungan inovasi.“Ini bukan hanya soal serangga, tetapi tentang bagaimana kita menjaga masa depan industri sawit Indonesia,” katanya.

Ketiga spesies penyerbuk tersebut telah melalui serangkaian pengujian ilmiah dan dinyatakan aman untuk dikembangkan. Harapannya, mereka dapat memperkuat sistem penyerbukan sekaligus meningkatkan ketahanan ekosistem perkebunan.

Menurut Eddy, pelepasan serangga ini tidak hanya menjadi seremoni, tetapi juga ruang refleksi bahwa masa depan industri sawit nasional. Upaya memajukan industri ini sangat bergantung pada kemampuan menggabungkan ilmu pengetahuan, pengalaman dan kolaborasi.

Sementara itu,  Direktur Penyaluran Dana Sektor Hilir Badan Pengelola Dana Perkebunan,  Moh. Alfansyah menjelaskan bahwa BPDP mendukung kegiatan eksplorasi dan introduksi serangga penyerbuk dari Tanzania melalui skema riset inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementerian Pertanian Indonesia.“Kegiatan ini tidak hanya menjadi langkah strategis dalam memperkaya basis genetik dan memperkuat sistem penyerbukan kelapa sawit, tetapi juga menjadi simbol kesinambungan inovasi industri kelapa sawit yang telah berlangsung selama lebih dari empat decade,” tambahnya. Bun (sawitindonesia.com)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Slide2
Informasi Tentang Keanggotaan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Terbaru
Picture1-1-1024x558
Regenerasi Serangga Penyerbuk Penopang Produksi Sawit
bapa
GAPKI Rayakan 45 Tahun, Tegaskan Peran sebagai Mitra Strategis Pemerintah Kawal Industri Sawit Nasional
org swt
May Day, Perlindungan Buruh Kelapa Sawit Kalbar Jadi Sorotan
734549_720
600 Ribu Hektare Kawasan Transmigrasi Ditanami Sawit