Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (GAPKI), Eddy Martono menyampaikan selama lebih dari 4 dekade, industri kelapa sawit Indonesia telah menunjukkan kontribusi yang sangat signifikan bagi bangsa dan negara.
“Industri kelapa sawit telah menjadi salah satu tulang punggung perekonomian nasional. Mulai dari memberikan devisa yang sangat besar, menciptakan jutaan lapangan kerja, serta mendorong pembangunan wilayah khususnya di daerah-daerah terpencil,” kata Eddy dalam HUT 45 Tahun GAPKI di Hotel Pullman Jakarta, Rabu (29/4).
Dia membeberkan bahwa industri sawit telah menjadi tumpuan sumber pendapatan bagi 16,2 juta kepala keluarga, petani, karyawan, serta sumber pendapatan devisa negara.
Di samping itu, kata dia, industri sawit terbukti telah menjadi salah satu penyelamat ekonomi Indonesia pada saat krisis ekonomi dengan sumbangan devisa negaranya. Seperti pada tahun 1998, saat krisis 2008, dan pada saat COVID-19 tahun 2022.
“Industri sawit terbukti telah menjadi salah satu penyelamat ekonomi Indonesia pada saat krisis ekonomi 1998. Industri sawit telah telah berjalan memberikan devisa yang terbaik,” bebernya.
Lebih rinci ia menyebutkan bahwa industri sawit RI telah memberikan devisa sebesar USD 39 miliar atau setara Rp 600 triliun. Kemudian, mengalami penurunan menjadi hanya USD 30 miliar. Hal itu disebabkan oleh harga sawit pada tahun 2023 yang relatif lebih rendah dibandingkan 2022.
“Industri sawit memberikan devisa yang sangat besar USD 39 miliar atau setara dengan Rp 600 triliun, yang merupakan pencapaian ekspor tertinggi dalam sejarah pada tahun 2023,” beber Eddy.
Sementara itu, ia menyampaikan bahwa pada tahun 2024, perolehan devisa dari produk sawit mengalami penurunan menjadi hanya USD 27,76 miliar.
“Tetapi kita bersyukur, pada tahun 2025, perolehan devisa dari ekspor sawit meningkat kembali menjadi USD 35,9 miliar,” pungkasnya. Bun (jawapos.com)





