Bupati Mukomuko, Provinsi Bengkulu, Choirul Huda, mengungkapkan kabupaten yang ia pimpin selalu menjadi daerah penyumbang inflasi tertinggi di Bengkulu karena tingginya harga pangan di daerah tersebut. Penyebabnya, masyarakat enggan menanam tanaman hortikultura karena memiliki nilai ekonomi lebih rendah dibanding kelapa sawit sawit. Di Kabupaten Mukomuko, menurut dia, masyarakat lebih terfokus pada perkebunan kelapa sawit dan abai untuk menanam komoditas lain. Akibatnya, semua pasokan pangan disuplai dari luar daerah.
“Kebanyakan bahan kebutuhan kami didatangkan dari Provinsi Sumbar dan Jambi, di mana harganya jadi lebih tinggi,” kata Huda dalam rapat High Level Meeting TPID Se-Provinsi Bengkulu Semester 1 Tahun 2026 di Bengkulu, Senin (16/3/2026). Data Bank Indonesia (BI) Perwakilan Bengkulu mengungkapkan, data inflasi Februari 2026 menunjukkan bahwa inflasi tertinggi disumbang Kabupaten Mukomuko sebesar 4,30 persen (year on year). Angka ini mengalahkan Kota Bengkulu pada posisi 3,74 persen YoY.
Selain itu, penyebab inflasi tinggi di Mukomuko juga disebakan oleh rentang kendali dan jarak yang jauh dari pusat ibu kota provinsi. “Dari Kota Bengkulu, Jambi, Padang, kami jauh hal ini juga mempengaruhi mahalnya harga-harga di Kabupaten Mukomuko,” tambahnya. Bun (.kompas.com)





