TBS Tak Terbeli, Petani Sawit di Pasangkayu Tunda Panen Meski Harga Sudah Naik

 Kenaikan harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit hingga sekitar Rp 2.000 per kilogram belum sepenuhnya membawa keuntungan bagi petani di Kabupaten Pasangkayu, Sulawesi Barat.

Di tengah tren harga yang membaik, sebagian petani justru menunda panen karena kesulitan menjual hasil kebun.

Penyebabnya, sejumlah timbangan atau pengepul menghentikan sementara pembelian akibat penumpukan pasokan di pabrik kelapa sawit.

Dalam hampir sepekan terakhir, antrean truk pengangkut TBS terjadi di sejumlah pabrik pengolahan sawit di Pasangkayu.

Kondisi tersebut membuat proses bongkar muat berjalan lambat dan berdampak hingga ke tingkat pengepul.

Akibat keterbatasan daya tampung, sejumlah pengepul memilih menutup aktivitas pembelian sementara waktu.

Natu, petani sawit asal Desa Karya Bersama, Kecamatan Pasangkayu, mengatakan kenaikan harga menjadi tidak berarti ketika akses penjualan justru terhambat.

“Banyak timbangan tutup, kami mau jual ke mana? Percuma harga naik kalau tetap susah menjual buah,” ujarnya, Sabtu (13/6/2026).

Menurut Natu, antrean kendaraan di pabrik bukan persoalan baru, tetapi kali ini berlangsung lebih lama dan berdampak langsung pada petani.

Baca Juga:  Eddy Martono Terpilih Sebagai Ketua Umum Gapki Periode 2023-2028 Secara Aklamasi

Ia menyebut banyak truk harus menunggu berhari-hari untuk membongkar muatan sehingga pengepul menghentikan penerimaan buah dari petani.

Kondisi tersebut membuat petani memilih menunda panen karena khawatir buah tidak terserap pasar atau mengalami penurunan kualitas.

Natu menilai persoalan ini perlu menjadi perhatian pemerintah daerah karena pertumbuhan produksi sawit harus diikuti dengan kesiapan infrastruktur pengolahan.

Ia menilai peningkatan kapasitas pabrik maupun masuknya investasi baru dapat menjadi salah satu solusi agar distribusi hasil panen lebih lancar.

Saat ini terdapat sekitar 10 pabrik kelapa sawit yang beroperasi di Pasangkayu.

Namun menurut petani, kapasitas yang tersedia dinilai belum mampu mengimbangi peningkatan produksi TBS.

Petani juga berharap perusahaan dan pemerintah daerah dapat mencari jalan keluar agar antrean di pabrik berkurang dan aktivitas pembelian di tingkat pengepul kembali normal sehingga momentum kenaikan harga benar-benar dirasakan masyarakat. Bun (sulbar.tribunnews.com)

 

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Permendan 13
Peraturan Menteri Pertanian No.13 tahun 2024 tentang Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Perkebunan Mitra
Terbaru
hhhh
PalmCo Kebut Sertifikasi 5.120 Pekerja, SDM Jadi Kunci Daya Saing Sawit
tandan
Mentan: Hilirisasi Sawit melalui B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani, Kalbar Ikut Terdampak
1003261089
ITP2I dorong hilirisasi dan teknologi digital perkuat industri sawit
AKPY
AKPY, BPDP, dan Ditjenbun Perkuat SDM Pekebun Luwu Timur untuk Dongkrak Produktivitas Sawit Rakyat