Menjaga Sawit, Menjaga Indonesia

Benar komoditas kelapa sawit tidak tidak hanya sebagai penyumbang devisa negara tapi juga turut menyerap tenaga kerja yang tidaklah kecil. Saat ini sektor kelapa sawit menyerap sekitar 16,5 juta tenaga kerja, yang terdiri dari 9,7 juta tenaga kerja langsung (petani rakyat dan karyawan perusahaan) serta 8 juta tenaga kerja tidak langsung (pengangkutan, pemasok pupuk, dan jasa terkait). Industri ini menjadi salah satu penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia.

“Artinya jika satu orang pekerja memiliki 1 orang istri dan 2 orang anak, maka artinya ada 66 oranng yang menggantungkan hidupnya dari komoditas kelapa sawit, itupun baru jumla keluarga pekerja sawit belum ditambah dengan jumlah keluarga petani kelapa sawit,” kata Sumarjono Saragih, Ketua Bidang Pengembangan SDM, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), kepada sawitsetara.co.

Jadi, lanjut Sumarjono, dengan menjaga komoditas kelapa sawit itu sama saja dengan menjaga Indonesia tercinta ini. Sebab tidak sedikit yang mengganttungkan hidupnya dari kelapa sawit.

Bukan hanya negara yang mendapatkan keuntunngan dari kelapa sawit melalui pajak ekspor dan sebagainya tapi juga masyarakat yang berkeja di perusahaan sawit juga petani mandiri.

“Jadi dalam hal ini jangan sampai sawit mati. Artinya dengan menjaga sawit sama dengan menjaga Indonesia,” kata Sumarjono.

Baca Juga:  Komisi IV DPR RI Minta Kementan Naikkan Realisasi Program PSR

Lebih dari itu, perempuan adalah pilar penting industri sawit. Mereka bagian dari 16 juta total pekerja sawit nasional. Menopang ragam aktivitas.

Dari peran eksekutif, pekerja perusahan hingga petani dan buruh tani. Industri sawit pun terus berupaya mewujudkan terwujudnya keadilan dan kesetaraan jender.

“Ini bukan saja soal bagian dari pemenuhan standar sawit berkelanjutan dan kepatuhan hukum. Lebih dari itu, bukti nyata industri sawit penting dan penopang mimpi Indonesia Emas 2045,” kata Sumarjono.

Perempuan berdaya, haknya dihormati, dipenuhi dan dilindungi. Ini jadi fondasi penting dan kontribusi nyata dari industri sawit yang ada di perdesaan. Sejalan dengan angenda Asta Cita Pemerintahan Prabowo-Gibran, membangun dari desa.

Artinnya pekerja di sektor sawit tidak hanya identik dengan pria tapi juga wanita. Bahkan di perkebunan kelapa sawit juga terdapat day care dan sekolah umum. Dimana perempuan pekerja sawit dapat menitipkannya di tempat tersebut. Di tempat tersebut anak dapat makanan bernutrisi tinggi, dan istirahat yang layak.

Adapun untuk sekolah bagi anak pekerja bisa menyekolahkannya di tempa tersebut. Bahkan terdapat antar jemput untuk siswa-sisawanya. Bun (sawitsetara.co)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Slide2
Informasi Tentang Keanggotaan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia dari Sabang sampai Merauke.
Terbaru
734549_720
600 Ribu Hektare Kawasan Transmigrasi Ditanami Sawit
wowo
Industri Sawit Terintegrasi Disiapkan di Sei Mangkei
eksppor
Sertifikasi ISPO Petani Dipercepat lewat Dukungan Pendanaan dan Kelembagaan
671da3ce5a540
Sawit Kembangkan Kawasan Transmigrasi, Dorong Ekonomi dan Serap Tenaga Kerja