Kepala Pusat South East Asia Food and Agriculture Science & Technology (Seafast) Center IPB University Puspo Edi Giriwono menilai industri kelapa sawit berperan strategis dalam mendukung ketahanan pangan nasional dari aspek ketersediaan, keterjangkauan, dan keberlanjutan lingkungan.
Peran strategis tersebut didukung oleh posisi keunggulan Indonesia sebagai produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) terbesar di dunia dengan total produksi mencapai sekitar 53 juta ton per tahun.
Kapasitas produksi raksasa ini tidak hanya memadai untuk memenuhi seluruh kebutuhan domestik, tetapi juga menjadikan Indonesia sebagai pemasok utama kebutuhan minyak nabati global.
“Minyak sawit nasional mampu memenuhi kebutuhan Indonesia secara 100 persen, bahkan sampai surplus dan bisa memenuhi kebutuhan minyak nabati global,” kata Puspo, Senin (20/7).
Puspo memperkirakan peran kelapa sawit akan makin krusial seiring dengan peningkatan populasi global yang diproyeksikan mencapai 10 hingga 11 miliar jiwa pada 2050 dengan kebutuhan 250 juta ton minyak nabati per tahun.
“Apa komoditas yang bisa sangat produktif dengan kondisi lahan makin berkurang? Produktivitas kelapa sawit akan menjawab dan menyuplai kebutuhan populasi dunia yang mencapai 10-11 miliar tadi,” tuturnya.
Meskipun sangat unggul dari sisi produktivitas, pengembangan industri hilir berbasis sawit di sektor pangan perlu terus didorong agar Indonesia tidak sekadar menjadi pemasok bahan baku mentah.
Puspo merujuk pada keberhasilan sejumlah industri di luar negeri yang mampu mengolah bahan baku hingga melewati sepuluh tahapan lanjutan untuk menghasilkan produk terspesialisasi dengan nilai ekonomi jauh lebih tinggi.
Sebagai wujud dukungan terhadap hilirisasi tersebut, pemerintah melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) telah menjalankan Program Pangan dan Hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah produk melalui pendanaan riset, pengembangan infrastruktur, serta kemitraan industri.
Menurut Puspo, program yang diinisiasi BPDP tersebut perlu terus diperkuat khususnya untuk mendorong riset dan pengembangan minyak sawit merah (red palm oil) yang prospektif dari sisi kesehatan maupun ekonomi.
“Kalau dari pangan sendiri, saya melihat minyak sawit merah itu mengandung antioksidan yang sangat tinggi dan bermanfaat untuk kesehatan. Kami dorong supaya minyak sawit merah bisa dioptimalkan dengan baik,” katanya.
Minyak sawit merah diketahui mengandung antioksidan, beta-karoten, dan vitamin E tinggi yang mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular sekaligus berpotensi menjadi komoditas hilir bernilai tambah tinggi untuk memperluas pasar.
“Minyak sawit merah itu bisa meningkatkan kognitif. Bisa memanfaatkan untuk mengatasi persoalan stunting hingga memperbaiki gizi anak-anak Indonesia,” imbuhnya. Bun (jpnn.com)





