“PKS Indonesia telah memiliki pasar yang stabil di Jepang dalam tiga tahun terakhir. Ke depan, kami mendorong pengembangan EFB pellet sebagai sumber energi alternatif yang memiliki potensi besar,” ujarnya.
Ia menambahkan, total potensi biomassa sawit Indonesia mencapai sekitar 232 juta metrik ton per tahun, yang setara dengan kapasitas produksi listrik hingga 38.760 MW. Potensi ini dinilai menjadi peluang besar dalam mendukung transisi energi global menuju sumber energi yang lebih berkelanjutan.
Wakil Duta Besar RI untuk Jepang, Maria Renata Hutagalung, menegaskan bahwa perdagangan biomassa sawit memberikan kontribusi positif terhadap neraca perdagangan Indonesia–Jepang. “KBRI Tokyo akan terus mendukung upaya promosi dan perluasan akses pasar bagi pelaku usaha Indonesia di Jepang,” ujarnya.
Sementara itu, Direktur Perencanaan, Penghimpunan, dan Pengembangan Dana BPDP, Lupi Hartono, menyatakan komitmen BPDP dalam mendukung promosi dan pengembangan produk turunan sawit.
“BPDP tidak hanya mendukung promosi, tetapi juga pembiayaan riset untuk meningkatkan nilai tambah produk turunan kelapa sawit termasuk biomassa sawit Indonesia,” jelasnya.
Dari sisi jaminan mutu, Direktur Utama PT Sucofindo, Sandri Pasambuna, mengungkapkan bahwa pihaknya telah menjalin kerja sama dengan Japan Quality Assurance. Kolaborasi ini diharapkan dapat meningkatkan kredibilitas sertifikasi biomassa Indonesia di mata pembeli Jepang.
Di sisi lain, Direktur Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional Kementerian Perdagangan RI, Fajarini Puntodewi, menambahkan bahwa biomassa sawit merupakan salah satu komoditas strategis dengan potensi besar sebagai sumber devisa negara.
Pemerintah, lanjutnya, berkomitmen untuk terus memperkuat promosi dan memperluas akses pasar melalui sinergi dengan berbagai perwakilan perdagangan di Jepang, termasuk melalui Atase Perdagangan dan ITPC Osaka.
“Dengan meningkatnya permintaan global terhadap energi terbarukan, biomassa sawit Indonesia diharapkan semakin memperkuat posisinya sebagai sumber energi alternatif yang berkelanjutan dan berdaya saing tinggi di pasar internasional,” ujar Dirjen Puntodewi. Bun (





