Kepala Bidang Hilirisasi Dinas Perkebunan Sulbar, Agustina mengatakan antrean panjang truk pengangkut Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit di Mamuju Tengah dan Pasangkayu disebabkan faktor teknis maupun non-teknis di lapangan.
Agustina mengungkapkan faktor utama yang memicu kemacetan panjang ini adalah musiman.
Sejak April hingga Juni, perkebunan sawit di Sulbar memasuki periode puncak panen.
“Volume TBS yang melonjak tajam dari kebun masyarakat tidak seimbang dengan kapasitas olah harian pabrik kelapa sawit yang ada,” ujar Agustina saat ditemui di ruang kerjanya, Kantor Dinas Perkebunan Sulbar, Senin (18/5/2026).
Ketidakseimbangan ini membuat ruang penampungan pabrik (loading ramp) kelebihan muatan (overload), sehingga truk harus mengantre berjam-jam bahkan berhari-hari untuk bisa bongkar muat.
Faktor krusial berikutnya adalah derasnya pasokan TBS dari petani swadaya atau mandiri yang berada di luar sistem kemitraan resmi pabrik.
Ia mencontohkan di Mamuju, PT Manakara Unggul Lestari (MUL) di Leling hanya memiliki kapasitas olah 45 ton per jam.
Pabrik ini tidak mampu lagi menampung masifnya produksi dari petani swadaya di sekitarnya, seperti dari wilayah Tommo 1 dan Tommo 2.
Akibatnya, arus kendaraan dialihkan ke daerah bawah, salah satunya ke PKS PT Mitra Andalan Sawit (MAS).

Ia tak menampik, kondisi ini kemudian menimbulkan keluhan dari berbagai pihak, mulai dari petani swadaya, pengepul, hingga transporter.
Mengingat waktu tunggu yang lama memicu penurunan kualitas buah sawit, potongan grading yang membengkak, hingga kerugian operasional akibat truk yang tertahan berhari-hari.
Titik Kemacetan Terparah
PT MAS menjadi titik dengan antrean paling mengular karena posisinya yang sangat strategis.
“Berada paling dekat dengan jalan poros utama dan terbuka untuk umum menampung semua TBS dari petani swadaya. Truk dari luar daerah seperti Polewali Mandar (Polman) dan Pinrang ikut masuk menyerbu pabrik ini tanpa adanya pengaturan jadwal masuk yang teratur,” sambungnya.
Masuknya truk dalam jumlah besar secara bersamaan diperparah oleh prosedur pemeriksaan mutu (grading) di pintu masuk pabrik yang memakan waktu lama.
Petugas PKS harus mengecek satu per satu kondisi fisik buah. Ketika volume kendaraan yang datang membeludak, otomatis proses antrean pemeriksaan ini berjalan jauh lebih lambat dan memicu kemacetan yang mengular hingga ke luar area pabrik.
Kondisi jalan kebun atau akses menuju PKS yang rusak memperlambat laju kendaraan.
Saat intensitas hujan tinggi, jalanan yang licin dan rusak membuat truk pengangkut harus berjalan ekstra hati-hati, memicu keterlambatan distribusi, hingga menyebabkan penumpukan kendaraan di satu waktu yang bersamaan. Bun (sulbar.tribunnews.com)





