Malaysia Lebih Canggih, Data Produksi Sawit RI Dipertanyakan Petani

Isu tata kelola dan akurasi data produksi sawit kembali mencuat. Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) menilai angka produksi nasional belum sepenuhnya mencerminkan kondisi di lapangan. Petani membandingkan apa yang sudah dilakukan Malaysia, dengan sistem real time mencatat produksi sawit.
Sekjen Apkasindo Rino Afrino mengaku belum melihat gambaran produksi yang benar-benar transparan dan sinkron dengan luas lahan yang tercatat.

“Saya jujur saja belum bisa melihat produksi Indonesia itu clear and clear. Yang menghitung 46 juta ton (CPO) dengan luas 17 juta hektare itu kayaknya nggak matching,” katanya dikutip Selasa (3/3/2026).
Ia menyinggung program peremajaan sawit rakyat (replanting) yang telah berjalan satu dekade dengan dukungan dana besar.
“Tidak ada artinya sudah menggelontorkan 400 ribu hektare replanting kalau dirata-ratakan petaninya cuma 300 kg. Kebun petani saya saja yang replanting sudah 2 ton (Tandan Buah Segar/TBS/Hektare/Bulan),” ujarnya.

Menurutnya, jika benar produktivitas meningkat, grafik produksi nasional seharusnya menunjukkan lonjakan signifikan.

Baca Juga:  Aturan Turunan UU Cipta Kerja, Petani Sawit Kawasan Hutan Akan Dikenai Sanksi Administratif.

“Harusnya dengan hadirnya 10 tahun BPDP, replanting 400 ribu, pelatihan SDM puluhan ribu, masa grafik produksinya stagnan?” tegas Rino.

Ia juga mempertanyakan ketersediaan pasokan yang dinilai cukup untuk biodiesel, minyak goreng, hingga industri oleokimia, meski data produksi terkesan datar.

“Biodieselnya naik, minyak goreng cukup, tidak ada kelangkaan. Barangnya dari mana? Impor tidak mungkin, pasti dari dalam negeri,” katanya.

Rino mendorong percepatan pembangunan sistem data tunggal kelapa sawit nasional yang terintegrasi dan real time.

“Kita tidak punya data real time seperti Malaysia Palm Oil Board. Mereka punya sistem harian, semua PKS wajib lapor. Traceability mereka sudah lebih dari 80%,” ujarnya.

Ia menilai diplomasi sawit Indonesia di forum global akan lebih kuat jika didukung data konkret dan transparan. “Kita keliling dunia bilang sawit baik, tapi begitu datanya dibuka realisasi ISPO jeblok. Kita punya PR besar di situ,” tutupnya. Bun (cnbcindonesia.com)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
mbl swt
Kantong Petani Makin Tebal, Harga TBS Provinsi Babel Ditetapkan Naik Menjadi Rp3.514/kg
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
kisah-sukses-petani-sawit-jambi-kemitraan-strategis-membawa-harapan-baru
Kisah Sukses Petani Sawit Jambi: Kemitraan Strategis Membawa Harapan Baru
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Terbaru
ongkos kirim sawit
DBH Sawit Menyusut, Pembangunan Infrastruktur Tetap Jadi Prioritas
RI Bangun Kilang Bioavtur dari Sawit dan Minyak Jelantah
sawitttttt
Pakar IPB Soroti Potensi Limbah Sawit untuk Kurangi Ketergantungan Impor
AKPY-1024x682
Kolaborasi Pendidikan dan Industri, INSTIPER Bangun Teaching Plant Sawit Berteknologi SPOT