Produktivitas perkebunan kelapa sawit tidak hanya ditentukan oleh pemupukan, bibit unggul, atau luas lahan, tetapi juga sangat bergantung pada kualitas proses panen yang dilakukan para pekebun di lapangan. Teknik panen oleh para pekebun sawit yang tepat dinilai menjadi faktor penting untuk menjaga produktivitas tanaman tetap optimal sekaligus memastikan kualitas tandan buah segar (TBS) tetap terjaga.
Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi menegaskan, kesalahan dalam proses panen sering kali menjadi penyebab utama hilangnya potensi pendapatan petani, meskipun produksi kebun tergolong tinggi. “Sering kali kehilangan pendapatan petani bukan terjadi karena rendahnya produksi, tetapi karena kesalahan dalam proses panen dan pascapanen. Ini yang harus diperbaiki,” ujar dia.
Dalam keterangan yang dikutip Minggu (21/06/2026), Idum Satia Santi menuturkan, panen yang dilakukan terlalu cepat atau terlalu lambat dapat berdampak pada perolehan rendemen minyak dan kualitas TBS sawit. “Jika dilakukan sesuai standar, selain menjaga mutu buah, panen yang profesional juga dapat membantu menjaga siklus produksi tanaman tetap stabil dan berkelanjutan,” papar dia.
Idum Satia Santi juga menjelaskan, dalam praktik di lapangan, masih banyak pekebun/petani yang belum sepenuhnya memahami standar kematangan buah maupun pentingnya mengutip brondolan secara optimal. Padahal, setiap brondolan yang tertinggal adalah potensi kehilangan minyak dan pendapatan.
Karena itulah, para pekebun sawit, terutama di Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng), dilatih mengenai panen profesional oleh AKPY, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), dan Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian (Kementan) di Palangka Raya pada 18-23 Juni 2026. Panen profesional jadi fokus pelatihan demi peningkatan produktivitas tanaman yang dikelola para pekebun sawit.
Melalui pelatihan di antaranya di Palangka Raya pada 18-23 Juni 2026 tersebut, para pekebun yang menjadi peserta didorong untuk mengubah pola panen tradisional menjadi lebih profesional, terukur, dan efisien. “Para pekebun tidak hanya sekadar memotong buah, tetapi mereka juga memahami seluruh rantai penanganan hasil hingga tiba di pabrik (pabrik kelapa sawit/PKS),” tutur Idum Satia Santi.
Pemahaman panen sawit profesional itu menjadi salah satu fokus utama dalam pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan Sumber Daya Manusia Perkebunan (SDMP) 2026 yang diselenggarakan AKPY dengan dukungan BPDP dan Ditjen Perkebunan Kementan. Pelatihan itu bagian dari upaya penguatan kapasitas SDM perkebunan yang diikuti total 237 petani sawit dan penyuluh dari Kabupaten Kotim.
Para peserta terbagi dalam dua bidang pelatihan, yakni 149 peserta pada kelas teknis budi daya sawit dan 88 peserta pada kelas panen dan pascapanen, yang seluruhnya dibagi ke dalam delapan kelas. Khusus pada pelatihan panen dan pascapanen, peserta dibekali keterampilan teknis mulai dari memahami kriteria matang panen, teknik pemotongan tandan sesuai standar, pengumpulan brondolan, hingga percepatan pengiriman hasil panen ke pabrik.
Harga Lebih Baik
Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotim Yephi Hartady Periyanto menilai, peningkatan keterampilan panen jadi bagian penting dalam upaya mendorong petani sawit rakyat naik kelas. Produktivitas tinggi harus berjalan seiring kualitas hasil dan tata kelola kebun yang baik. “Kalau ingin berada pada harga yang lebih baik, raihlah kelas itu. Mulai dari cara panen yang benar, legalitas usaha, sampai penerapan standar keberlanjutan,” kata dia.
Hal senada disampaikan Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kalteng Jayan Wahyudi. Dinas Perkebunan Kalteng meminta seluruh peserta yakni para pekebun sawit mengikuti pelatihan dengan serius dan menularkan ilmu yang diperoleh kepada petani lain di wilayahnya. “Profesionalisme dalam panen akan berdampak langsung terhadap daya saing sawit rakyat, terutama di tengah tuntutan pasar global yang semakin ketat terhadap mutu dan ketelusuran produk,” ujar dia.
Dengan luas perkebunan sawit di Kalteng yang lebih dari 2,1 juta hektare (ha), peningkatan kualitas panen di tingkat petani menjadi langkah strategis untuk menjaga produktivitas secara nasional. Bagi AKPY, BPDP, dan Ditjen Perkebunan Kementan, pelatihan panen profesional bagi para pekebun sawit tersebut bukan sekadar transfer ilmu, tetapi investasi jangka panjang untuk menciptakan petani sawit yang lebih profesional, produktif, dan berkelanjutan. Bun (investor.id)





