Sawit Rakus Air dan Bikin Kekeringan Adalah Hoaks

Pagi itu, embun masih menggantung di ujung pelepah. Di sebuah hamparan kebun kelapa sawit, tanah terlihat lembap, bukan retak. Di antara barisan batang yang tegak, air hujan yang turun semalam tidak mengalir deras ke parit, melainkan meresap perlahan ke dalam tanah.

Pemandangan ini kerap luput dari perdebatan panjang tentang satu tudingan lama: sawit disebut-sebut sebagai tanaman rakus air, biang kekeringan di berbagai wilayah. Padahal, sejumlah data ilmiah justru mengisahkan cerita yang berbeda.

Dalam buku Industri Minyak Sawit Indonesia dalam Isu Sosial, Ekonomi dan Lingkungan Global edisi keempat, kebutuhan air kelapa sawit tercatat hanya sekitar 1.104 milimeter per tahun. Angka ini, bila dibandingkan, terpaut jauh dari tanaman lain yang kerap dianggap lebih “alami”.

Margarin & Minyak Goreng

Bambu, misalnya, membutuhkan hingga 3.000 milimeter per tahun. Lamtoro berada pada kisaran yang sama. Akasia memerlukan sekitar 2.400 milimeter, sementara sengon mencapai 2.300 milimeter.

Penjelasan lain datang dari cara tanaman ini memanfaatkan air. Pohon sawit hanya menggunakan sekitar 40 persen dari total curah hujan tahunan untuk proses pertumbuhannya. Bandingkan dengan mahoni yang menyerap 58 persen, atau pinus yang mencapai 65 persen.

Selisih ini bukan sekadar angka, melainkan indikator efisiensi biologis yang jarang disorot dalam diskursus publik.

Ukuran lain yang lebih komprehensif adalah water footprint—jejak air yang dibutuhkan untuk menghasilkan satu ton produk. Pada parameter ini, pohon sawit justru menempati posisi paling hemat di antara tanaman minyak nabati utama dunia.

Bunga matahari membutuhkan 3.366 meter kubik per ton, rapeseed 2.271 meter kubik, kedelai 2.145 meter kubik. Kelapa sawit? Hanya 1.098 meter kubik per ton.

Efisiensi ini bukan kebetulan. Ia berakar dari sejarah panjang evolusi tanaman ini di Afrika, wilayah yang tidak selalu ramah air. Adaptasi itu membentuk struktur biologis yang khas. Pelepah daun yang rimbun menciptakan naungan hampir sempurna, menutup permukaan tanah hingga mendekati 100 persen saat tanaman dewasa. Di bawahnya, kelembapan terjaga, penguapan ditekan.

Baca Juga:  Harga CPO Rebound Berkat Penurunan Produksi

Sementara itu, sistem perakaran serabut yang luas bekerja diam-diam di bawah permukaan. Ia membentuk biopori alami—rongga-rongga kecil yang memungkinkan air hujan meresap lebih dalam ke tanah. Di sinilah air tidak terbuang sebagai limpasan permukaan (run-off), melainkan disimpan sebagai cadangan.

Proses ini memiliki implikasi ekologis yang tidak kecil. Dengan meningkatnya kapasitas infiltrasi dan daya simpan air tanah, risiko erosi akibat hantaman hujan dapat ditekan. Dalam jangka panjang, fungsi hidrologi ini bahkan disebut-sebut mendekati karakteristik hutan hujan tropis.

Sejumlah indikator mendukung klaim tersebut. Kelembapan udara di kawasan perkebunan sawit relatif stabil, sementara cadangan air tanah menunjukkan keseimbangan yang tidak jauh berbeda dengan kawasan berhutan. Bahkan, dalam beberapa pengamatan, kandungan air tanah di lahan sawit tercatat lebih tinggi dibandingkan perkebunan karet.

Di tengah perubahan iklim global yang memperparah pola kekeringan di berbagai belahan dunia, temuan-temuan ini menjadi relevan. Kekeringan, dalam banyak kasus, lebih berkaitan dengan anomali iklim ketimbang jenis tanaman tertentu. Namun, narasi yang berkembang sering kali menyederhanakan persoalan, menempatkan sawit sebagai kambing hitam.

Padahal, jika melihat lebih dekat—dari pelepah yang meneduhkan tanah hingga akar yang menyimpan air—kelapa sawit justru memperlihatkan karakter sebagai tanaman yang efisien, bahkan konservatif dalam penggunaan air.

Di kebun itu, embun perlahan menghilang, tetapi tanah tetap menyimpan basahnya. Sebuah ironi kecil bagi tuduhan yang selama ini melekat: bahwa pohon sawit mengeringkan. Data justru berkata sebaliknya, pohon sawit hemat air. Bun (sawitsetara.co)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
mbl swt
Kantong Petani Makin Tebal, Harga TBS Provinsi Babel Ditetapkan Naik Menjadi Rp3.514/kg
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
kisah-sukses-petani-sawit-jambi-kemitraan-strategis-membawa-harapan-baru
Kisah Sukses Petani Sawit Jambi: Kemitraan Strategis Membawa Harapan Baru
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Terbaru
belum-mau-turun-harga-sawit-plasma-riau-masih-terus-moncer-pekan-ini
Belum Mau Turun, Harga Sawit Plasma Riau Masih Terus Moncer Pekan Ini
ongkos kirim sawit
DBH Sawit Menyusut, Pembangunan Infrastruktur Tetap Jadi Prioritas
RI Bangun Kilang Bioavtur dari Sawit dan Minyak Jelantah
sawitttttt
Pakar IPB Soroti Potensi Limbah Sawit untuk Kurangi Ketergantungan Impor