Kejar target B50, Kementan optimalkan produksi sawit tanpa perluas lahan

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian (Kementan) RI tengah melakukan pergeseran strategi besar dalam pengelolaan kelapa sawit nasional. Di tengah ambisi besar pemerintah untuk mempercepat program biodiesel B50 hingga B100, Kementan memilih untuk fokus pada intensifikasi kebun yang sudah ada daripada melakukan ekstensifikasi atau pembukaan lahan baru.

Direktur Perbenihan Perkebunan Kementan, Ebi Rulianti, mengungkapkan bahwa dalam satu dekade terakhir, produktivitas kelapa sawit di Indonesia relatif stagnan. Hal ini menjadi tantangan serius mengingat kelapa sawit merupakan penyumbang devisa non-migas terbesar bagi negara.

“Kita tidak bisa hanya mengandalkan ekstensifikasi lahan. Harus ada upaya bagaimana kita mengintensifkan kebun yang ada,” ujar Ebi dalam diskusi di podcast Elshinta, yang dilihat Jumat, (29/5/2026).

Untuk mencapai target tersebut, Kementan bersama asosiasi pengusaha (GAPKI) melakukan introduksi tiga spesies serangga penyerbuk asal Afrika, yakni Elaeidobius kamerunicus, subvittatus, dan plagiatus. Inovasi ini dilakukan sebagai jawaban atas rendahnya fruit set atau proses pembentukan buah yang terjadi selama ini karena menurunnya kinerja serangga penyerbuk alami.

Ebi menjelaskan bahwa selama ini, banyak perusahaan perkebunan terpaksa mengeluarkan biaya operasional yang sangat besar untuk melakukan polinasi manual atau asisten polinasi dengan tenaga manusia. Proses ini tidak hanya mahal, tetapi juga memerlukan kompetensi khusus.

Baca Juga:  Solidaridad Dukung Pertanian Berkelanjutan dan Pembinaan Petani Kelapa Sawit di Sekadau

“Satu, kita harus mengumpulkan polen (serbuk sari). Itu prosesnya mahal juga, tingkat keberhasilannya juga khawatir terkontaminasi segala macam, dan harus punya tenaga orang terampil,” jelas Ebi.

Dengan adanya bantuan serangga penyerbuk, Kementan menargetkan peningkatan keberhasilan pembuahan alami hingga 70 persen. Ebi optimistis jika faktor pendukung lainnya seperti pemupukan dan pengendalian hama berjalan dengan baik, maka kenaikan produksi dapat mencapai setidaknya 10 persen.

“Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri, kami merangkul pengusaha dan asosiasi petani untuk mencari solusi atas stagnasi ini. Semata-mata untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui salah satunya kelapa sawit ini,” tambah Ebi.

Saat ini, Kementan telah menerapkan sistem monitoring digital melalui profiling data di setiap perusahaan yang tergabung dalam konsorsium. Langkah ini bertujuan untuk memastikan bahwa serangga penyerbuk dapat bertahan hidup (survive) dan terus berkembang biak di lapangan, sehingga target produksi nasional dapat tercapai lebih cepat guna mendukung ketahanan energi nasional. Bun (elshinta.com)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
IMG-20260424-WA0018_compressed
DIALOG NASIONAL TRANSFORMASI PENGELOLAAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN
686ca7e56fddb
Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
Terbaru
eddy_martono_PWI_GAPKI__
Dorong Pemahaman Bersama: Kelapa Sawit sebagai Komoditas Budidaya Berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014
pasokan-kelapa-sawit-buat-bahan-baku-b50-1_169
BPS Buka-bukaan Nasib Ekspor Kelapa Sawit di Tengah Mandatori B50
emm
Industri Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah dan Penerimaan Negara
whatttt
Sawit dan Ekonomi Nasional, BPDP Libatkan Media dalam Edukasi Publik