ndustri kerajinan menjadi salah satu sektor yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus memperkuat ekspor manufaktur Indonesia. Didukung kekayaan budaya, kreativitas, dan keterampilan para perajin, produk kriya Indonesia terus menunjukkan daya saing di pasar global.
Kementerian Perindustrian mencatat nilai ekspor industri kerajinan pada kuartal I/2026 mencapai US$165,27 juta atau sekitar Rp2,97 triliun. Nilai tersebut meningkat 4,08% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
“Industri kerajinan merupakan sektor yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan karena mampu menciptakan nilai tambah tinggi, memperluas kesempatan kerja, serta memperkuat ekonomi daerah. Pemerintah terus melakukan penguatan ekosistem industri kerajinan melalui peningkatan kapasitas SDM, pengembangan inovasi produk, dan perluasan akses pasar,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (28/6/2026).
Menurut Kementerian Perindustrian, pengembangan industri kerajinan juga diarahkan untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan baku dalam negeri serta mendukung penerapan ekonomi sirkular. Upaya tersebut ditujukan untuk memperkuat rantai pasok industri sekaligus membuka peluang usaha baru bagi masyarakat.
Sejalan dengan itu, Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri (BSKJI), Emmy Suryandari, mengatakan peningkatan daya saing industri kerajinan nasional memerlukan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan.
“Berbagai program pendampingan dan peningkatan kapasitas, Kemenperin terus berupaya agar menghasilkan produk-produk kreatif yang mampu menjawab kebutuhan pasar sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Emmy.
Sebagai bagian dari upaya tersebut, Balai Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri (BSPJI) Samarinda bekerja sama dengan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) menyelenggarakan Workshop Kerajinan Anyaman dan Kertas Seni Berbasis Kelapa Sawit di Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, Kalimantan Utara.
Workshop yang berlangsung pada 22-26 Juni 2026 itu mendapat dukungan pendanaan dari BPDP melalui program ekonomi hijau berbasis sawit dalam rangka Peningkatan Nilai Ekonomi Produk Kerajinan melalui Optimalisasi Pemanfaatan Limbah dan Produk Samping Sawit di Industri Kecil dan Menengah Kerajinan Provinsi Kalimantan Utara.
Kegiatan tersebut diikuti 30 pelaku usaha kerajinan dari Kabupaten Bulungan, Malinau, Nunukan, dan Tana Tidung. Peserta memperoleh materi teori dan praktik pembuatan kerajinan anyaman serta kertas seni dengan memanfaatkan limbah dan produk samping kelapa sawit sebagai bahan baku.
Kepala BSPJI Samarinda, Ransi Pasae, mengatakan pengembangan kerajinan berbasis limbah dan produk samping kelapa sawit merupakan salah satu strategi untuk mendorong penerapan ekonomi sirkular di wilayah perkebunan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
“Pemanfaatan limbah dan produk samping kelapa sawit menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi merupakan langkah nyata dalam mendukung industri yang berkelanjutan. Selain mengurangi limbah, kegiatan ini diharapkan mampu melahirkan produk-produk kreatif unggulan yang dapat memperkuat perekonomian daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan Usaha Mikro Kecil dan Menengah BPDP, yang dalam sambutannya diwakili Anwar Sadat selaku Analis Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, menyampaikan dukungan terhadap program ekonomi hijau berbasis sawit melalui pemberdayaan UMKM perkebunan sawit sebagaimana yang dilaksanakan BSPJI Samarinda.
Melalui kerja sama BSPJI Samarinda dan BPDP, pengembangan industri kerajinan berbasis kelapa sawit di Kalimantan Utara diharapkan dapat membuka peluang usaha baru. Posisi Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan negara tetangga dan berada di jalur perdagangan regional juga dinilai memberikan peluang bagi pengembangan pasar produk kerajinan berbasis sawit, baik di tingkat nasional maupun internasional. Bun (swa.co.id)





