JAKARTA–Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sebelumnya Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), menargetkan peremajaan tanaman (replanting) sawit 120 ribu hektare (ha) tahun ini.
Di sisi lain, ditargetkan peremajaan tanaman kakao dan kelapa dengan target masing-masing 5.000-10.000 ha.
Seiring perluasan tugas badan layanan umum (BLU) tersebut, BPDP tengah menyiapkan regulasi penyaluran dana peremajaan kakao dan kelapa. BPDP kini masih memiliki saldo Rp 30,63 triliun yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan di 2025, termasuk peremajaan sawit, kakao, dan kelapa.
Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengatakan, sesuai Perpres No 132 Tahun 2024 tentang Pengelolaan Dana Perkebunan (pengganti Perpres No 61 Tahun 2015) serta Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No 06 Tahun 2025 tentang Struktur Organisasi dan Tata Kelola Badan Pengelola Dana Perkebunan maka BPDPKS telah berubah menjadi BPDP dengan tugas menghimpun, mengelola, dan menyalurkan dana perkebunan.
Seiring dengan itu, komoditas yang ditangani BPDP menjadi tiga, yakni sawit, kakao, dan kelapa, dari sebelumnya hanya sawit. “Salah satu penggunaan dana perkebunan yang kami himpun adalah untuk peremajaan perkebunan. Di 2025, kami menargetkan peremajaan sawit 120 ribu ha, kakao 5.000-10.000 ha, dan kelapa 5.000-10.000 ha,” kata Eddy saat rapat dengar pendapat dengan Komisi XI DPR di Jakarta, Senin (17/02/2025).
Dalam laporan BPDP, BLU di bawah Kementerian Keuangan itu pada 2024 berhasil merealisasikan total pendapatan Rp 28,83 triliun dengan Rp 25,75 triliun di antaranya dari penerimaan pungutan ekspor (PE) sawit.
Capaian PE sawit 2024 itu lebih rendah dari 2023 yang sebesar Rp 32,39 triliun, salah satu penyebabnya volume ekspor yang merosot.
Sementara itu, total belanja BPDP di 2024 mencapai Rp 31,49 triliun dengan Rp 29,38 triliun untuk insentif biodiesel.
Karena belanja lebih besar dari pendapatan, neraca BPDP di 2024 defisit Rp 3,17 triliun.
Namun karena BPDP masih mengantongi saldo tahun-tahun sebelumnya total Rp 33,79 triliun maka hal itu tertutupi dan BPDP kini masih memiliki saldo Rp 30,63 triliun yang bisa untuk berbagai kegiatan di 2025, termasuk peremajaan sawit, kakao, dan kelapa.
Selain menargetkan peremajaan tanaman sawit, kakao, dan kelapa, BPDP di 2025 menargetkan penyaluran insentif biodiesel setara 7,55 juta kiloliter untuk PSO.
BPDP juga mendukung sarana prasarana perkebunan untuk intensifikasi lahan lewat penyediaan pupuk dan pestisida dan ekstensifikasi melalui penyediaan benih, pupuk, dan pestisida.
Di sisi lain, membantu penyediaan mesin pertanian dan alat transportasi, peningkatan jalan kebun, serta pembangunan kebun benih.
BPDP juga melakukan pengembangan sumber daya manusia (SDM), penelitian dan pengembangan, serta promosi perkebunan, seperti kampanye positif produk sawit, kakao, dan kelapa. (Investor.id)