Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) sebagai BLU di bawah Kementerian Keuangan menegaskan komitmennya dalam meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan petani sawit di seluruh Indonesia. Upaya ini menjadi bagian penting dalam mendorong peran strategis sektor sawit untuk mendukung ketahanan pangan sekaligus memberdayakan petani melalui penguatan UMKM berbasis sawit.
Kepala Divisi Kerja Sama Kemasyarakatan dan UMKM BPDP, Helmi Muhansyah, mengatakan petani sawit harus memiliki kemampuan yang mumpuni serta kesejahteraan ekonomi yang berkelanjutan. Menurutnya, bersama BPDP, petani sawit di seluruh Indonesia harus semakin kompeten dan sejahtera secara ekonomi.
Hal tersebut disampaikan Helmi dalam kegiatan Praktik Pengolahan Daun Sawit Menjadi Pakan Ternak untuk Mendukung Program SISKA serta Pembuatan Biochar dan Tankos Skala UMKM dalam Mendukung Ketahanan Pangan. Kegiatan ini diikuti ratusan petani sawit plasma, pengurus koperasi, dan pelaku UMKM dari berbagai wilayah di Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara, Kamis (9/4/2026).
Kegiatan ini merupakan kolaborasi antara BPDP dan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia, dengan dukungan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Sumatera Utara serta Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Labuhanbatu.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Sekretaris Umum Aspekpir Indonesia Syarifuddin Sirait, Ketua Aspekpir Labuhanbatu Budi Cibro, Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut Marthin Sibagariang, perwakilan Dinas Pertanian Labuhanbatu, serta General Manager Unit Group Labuhanbatu (1GLS) PTPN IV Regional 1. Kegiatan ini juga menghadirkan narasumber dari berbagai lembaga, antara lain peneliti BRIN Andi Tarigan, perwakilan Yayasan Agathis Dammara Karbon M. Mirza Arif Zainal, dan praktisi Arif Firmansyah.
Dalam kesempatan tersebut, Helmi mengungkapkan BPDP berhasil menghimpun dana sawit sebesar Rp31,5 triliun sepanjang 2025. Dana tersebut dimanfaatkan untuk berbagai program strategis, seperti beasiswa, riset, pengembangan biodiesel, hingga pelatihan bagi petani.
Ia juga menekankan pentingnya peran sawit dalam konteks global, terutama dalam menghadapi dinamika geopolitik yang berdampak pada ketahanan pangan dan energi. Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan melalui komoditas sawit yang dapat diolah menjadi biodiesel, bahkan menuju implementasi B-50 pada Juli 2026.
“Sawit mendukung ketahanan pangan sekaligus energi nasional. Indonesia bahkan berpotensi menuju B-100 jika didukung produktivitas yang optimal,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris Umum Aspekpir Indonesia Syarifuddin Sirait menyampaikan apresiasi atas dukungan BPDP dan PTPN IV PalmCo Regional 1 dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Ia menilai kegiatan pembuatan biochar, pupuk organik dari biomassa sawit, serta penerapan sistem integrasi sapi dan kelapa sawit (SISKA) merupakan langkah konkret dalam meningkatkan kapasitas petani.
“Ini merupakan bagian dari pemberdayaan petani sawit melalui UMKM, yang mendorong petani tidak hanya bergantung pada tandan buah segar, tetapi juga mampu mengolah limbah menjadi produk bernilai ekonomi,” ujarnya.
Ia menambahkan, inovasi seperti biochar, pakan ternak dari daun sawit, serta pemanfaatan tandan kosong sawit (tankos) merupakan solusi berkelanjutan yang tidak hanya meningkatkan pendapatan petani, tetapi juga menjaga lingkungan.
Perwakilan Regional Head PTPN IV PalmCo Regional 1 Labuhanbatu, Ihsan Sinuraya, menegaskan komitmen perusahaan dalam memperkuat kemitraan dengan petani sawit. Menurutnya, peningkatan kesejahteraan petani tidak hanya dilakukan melalui peningkatan produksi tandan buah segar (TBS), tetapi juga melalui optimalisasi pemanfaatan biomassa sawit.
“Kami terus mendorong pengolahan limbah sawit seperti tankos, lidi, dan daun menjadi produk bernilai tambah,” tegasnya.
Di sisi lain, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara terus memperkuat integrasi sektor perkebunan dan peternakan sebagai strategi meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus memperkuat ketahanan pangan.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Sumut, Marthin Sibagariang, menyebut Indonesia memiliki posisi strategis dalam industri kelapa sawit global dengan kontribusi sekitar 41 persen terhadap produksi dunia. Kondisi ini menjadikan sawit sebagai komoditas unggulan yang berpengaruh terhadap stabilitas pasar global.
“Jika terjadi gangguan pada sawit Indonesia, dampaknya bisa dirasakan secara global. Ini menunjukkan betapa strategisnya komoditas ini,” katanya.
Meski demikian, ia menilai pembangunan sektor sawit masih belum merata. Karena itu, diperlukan peningkatan nilai tambah melalui integrasi dengan sektor peternakan.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan praktik langsung pembuatan pakan ternak dari daun sawit, pembuatan biochar dari tandan kosong sawit, serta penerapan biochar pada tanaman pangan. Melalui pendekatan inovatif berbasis UMKM, pemberdayaan petani sawit diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang lebih mandiri, berkelanjutan, dan sejahtera ke depan. Bun (rm.id)




