Indonesia Palm Oil Strategic Studies (IPOSS) memproyeksikan neraca industri sawit nasional pada kuartal III/2026 akan semakin ketat seiring meningkatnya konsumsi domestik, dampak implementasi mandatori biodiesel B50 sejak 1 Juli 2026. Kondisi tersebut diperkirakan mempersempit ruang ekspor sekaligus menopang harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) global.
Dalam Outlook Industri Sawit Indonesia Q3 2026 bertajuk Memperkokoh Domestik sebagai Penentu Arah Sawit Global, IPOSS menyebut pasar domestik kini menjadi faktor utama yang menentukan arah industri sawit nasional maupun keseimbangan pasar global.
IPOSS memperkirakan produksi CPO dan CPKO selama Juli—September 2026 mencapai sekitar 11,1 juta ton, turun 48% atau sekitar 3 juta ton dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Penurunan produksi dipengaruhi kecenderungan kondisi kering akibat menguatnya fenomena El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) positif.
Di sisi lain, konsumsi domestik diproyeksikan meningkat menjadi sekitar 7,2 juta ton atau naik 12,9% secara tahunan. Dari jumlah tersebut, sekitar 4,25 juta ton diperkirakan terserap untuk kebutuhan biodiesel atau hampir 60% dari total konsumsi domestik.
Menurut IPOSS, peningkatan serapan untuk sektor energi menunjukkan kebijakan biodiesel semakin dominan dalam membentuk permintaan minyak sawit di dalam negeri.
Dengan produksi yang melemah dan konsumsi domestik yang meningkat, ekspor produk sawit nasional pada kuartal III/2026 diperkirakan hanya mencapai sekitar 4,3 juta ton. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan realisasi sekitar 8,3 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya.
IPOSS menilai penurunan ekspor bukan semata-mata karena melemahnya permintaan global, melainkan akibat perubahan alokasi pasokan nasional untuk memenuhi kebutuhan domestik dan menjaga ketersediaan stok.
Pada akhir kuartal III/2026, stok minyak sawit nasional diperkirakan turun menjadi sekitar 1,1 juta ton. Rendahnya stok tersebut dinilai membuat pasar semakin sensitif terhadap perubahan produksi, konsumsi, maupun ekspor, serta berpotensi memperketat pasokan global.
Dari sisi harga, IPOSS memperkirakan harga CPO global akan terus menguat hingga September 2026 karena terbatasnya pasokan ekspor, rendahnya stok, dan meningkatnya konsumsi domestik setelah implementasi B50.
Sementara itu, harga CPO domestik diproyeksikan menguat pada awal kuartal III/2026, tetapi kenaikannya diperkirakan tertahan dan terkoreksi pada September akibat meningkatnya bea keluar seiring kenaikan harga referensi CPO.
Menurut IPOSS, struktur tarif bea keluar yang berjenjang berpotensi meningkatkan beban ekspor ketika harga referensi melampaui batas tertentu. Kondisi tersebut dapat menekan harga bersih yang diterima eksportir sekaligus mendorong sebagian pasokan tetap berada di pasar domestik.
Selain proyeksi pasar, outlook tersebut juga menyoroti sejumlah isu strategis yang perlu menjadi perhatian pada kuartal III/2026, antara lain evaluasi domestic market obligation (DMO) minyak goreng, peningkatan produktivitas sawit rakyat, pembentukan BUMN ekspor, kesiapan menghadapi regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR), pembiayaan program biodiesel B50, hingga integrasi data rantai pasok.
IPOSS menilai penguatan konsumsi domestik melalui program B50 perlu diimbangi dengan peningkatan produktivitas kebun sawit rakyat, keberlanjutan pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), serta perbaikan tata kelola industri sawit secara menyeluruh agar daya saing sawit Indonesia tetap terjaga di pasar global. Bun (ekonomi.bisnis.com)





