Koperasi Masuk Bisnis Sawit: Bakal Bangun Pabrik CPO Sendiri

Kementerian Koperasi mulai mendorong koperasi naik kelas dari sekadar pengelola kebun menjadi pelaku industri sawit. Langkah itu dilakukan melalui kerja sama dengan PT Agrinas Palma Nusantara (Persero) untuk membangun ekosistem, termasuk membangun pabrik pengolahan crude palm oil (CPO) sendiri.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan kerja sama tersebut merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat posisi tawar petani sawit melalui kelembagaan koperasi, baik di sektor hulu maupun hilir.

Ia menjelaskan pemerintah akan membangun model kemitraan dengan PT Agrinas Palma Nusantara sebagai perusahaan inti, sedangkan koperasi sawit berperan sebagai plasma. Sedikitnya 20 persen lahan produktif nantinya akan dikelola koperasi.

“Sebuah ironi jika masyarakat petani punya sawit, tapi mereka harus antre minyak goreng. Koperasi adalah instrumen untuk menjadikan tata niaga sawit lebih adil. Kita akan dampingi agar mereka profesional dan mandiri,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (3/7).

Sebagai langkah awal, Kementerian Koperasi akan meresmikan pabrik CPO milik koperasi di Musi Banyuasin pada akhir Juli atau awal Agustus mendatang.

Ferry optimistis keterlibatan koperasi dalam industri sawit akan meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, koperasi kini memiliki kapasitas yang cukup untuk masuk ke sektor pengolahan hingga produk hilir.

“Koperasi sekarang masuk ke proses produksi, punya pabrik CPO sendiri, hingga produk turunan seperti minyak goreng atau minyak makan merah yang nantinya dijual kembali di koperasi desa. Ini adalah bentuk kedaulatan ekonomi masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga:  PASPI Apresiasi Komitmen BPDP di Riset Kelapa Sawit

Sementara itu, Direktur Utama PT Agrinas Palma Nusantara Muhammad Abdul Ghani mengatakan perusahaannya mendapat penugasan mengelola lahan sawit seluas 850 ribu hektare yang ditargetkan bertambah menjadi 1,25 juta hektare.

Dari total lahan tersebut, kata dia, sedikitnya 250 ribu hektare akan dialokasikan sebagai kebun plasma yang dikelola sekitar 250 koperasi.

“Kami juga mengidentifikasi lebih dari 120 ribu hektar sawit rakyat yang selama ini ikatan formalnya belum jelas, untuk dihimpun dalam koperasi,” jelas Abdul Ghani.

Tak hanya fokus pada sawit, kerja sama keduanya juga mencakup pengembangan komoditas pertanian strategis lainnya guna mendukung swasembada pangan dan energi nasional. Ia merinci, Agrinas akan menanam 400 ribu hektar kedelai, 250 ribu hektar jagung, serta 300 ribu hektar singkong sebagai bahan baku energi terbarukan (etanol).

“Artinya, dari seluruh aspek bisnis Agrinas, kita akan bermitra dengan koperasi. Di Sumatra Utara sendiri, tahun ini kami akan mulai melakukan piloting penanaman 1.500 hektar bersama koperasi,” pungkasnya. Bun (cnnindonesia.com)

 

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
6a1d4b6f35e8d
Petani Sawit Keluhkan Besarnya Bea Keluar dan Pungutan Ekspor, Negara Dapat Rp 1000 per 1 Kg
tanda-tangan
Gubernur Babel wajibkan perusahaan sawit bantu koperasi
686ca7e56fddb
Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi
TBS-sawit
Sawit dan Biofuel di Papua: Harga Mahal Transisi Energi Indonesia
Terbaru
eddy_martono_PWI_GAPKI__
Dorong Pemahaman Bersama: Kelapa Sawit sebagai Komoditas Budidaya Berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014
pasokan-kelapa-sawit-buat-bahan-baku-b50-1_169
BPS Buka-bukaan Nasib Ekspor Kelapa Sawit di Tengah Mandatori B50
emm
Industri Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah dan Penerimaan Negara
whatttt
Sawit dan Ekonomi Nasional, BPDP Libatkan Media dalam Edukasi Publik