Ekspor minyak sawit Malaysia berpotensi turun untuk bulan ketiga berturut-turut pada Juni 2026 jika pembeli beralih ke pasokan Indonesia yang lebih murah.
Kekhawatiran tersebut muncul seiring langkah Indonesia merombak sistem ekspor komoditas melalui sentralisasi pengelolaan ekspor.
Mulai 1 Juni 2026, Indonesia mulai menerapkan skema baru yang mewajibkan produsen melaporkan data penjualan melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia, perusahaan negara yang dibentuk untuk mengelola sistem ekspor komoditas.
Meski demikian, sistem tersebut masih berada dalam masa transisi. Perusahaan masih diperbolehkan menangani transaksi ekspor secara mandiri hingga Danantara mengambil alih sebagian aktivitas ekspor, paling cepat pada September 2026 atau selambat-lambatnya 1 Januari 2027, menurut pejabat senior Indonesia pekan lalu.
Sebelumnya, pelaku pasar memperkirakan aturan baru Indonesia akan mengalihkan permintaan ke Malaysia.
Namun, hingga kini hal tersebut belum terjadi karena sejumlah importir utama, terutama dari India, telah melakukan pembelian dalam jumlah besar pada kuartal pertama tahun ini.
Dikutip dari Free Malaysia Today, Direktur Perusahaan Pialang Pelindung Bestari Sdn yang berbasis di Selangor, Paramalingam Supramaniam, mengatakan Indonesia berpotensi meningkatkan ekspor hingga kebijakan baru tersebut diterapkan sepenuhnya.
“Jika Indonesia mulai mendorong ekspor lebih besar hingga kebijakan baru berlaku penuh, persaingan dengan Malaysia akan semakin ketat dan berpotensi menekan pengiriman sawit Malaysia,” ujarnya.
Peralihan pembelian ke minyak sawit Indonesia juga berpotensi memberikan tekanan terhadap harga kontrak berjangka minyak sawit Malaysia yang saat ini telah terbebani oleh lemahnya ekspor dan penurunan harga energi.
Kondisi tersebut mengurangi daya tarik minyak sawit sebagai bahan baku biofuel.
Menurut para pedagang, harga minyak sawit Indonesia saat ini lebih kompetitif dibandingkan harga minyak sawit Malaysia sehingga membuka peluang bagi Indonesia untuk memperbesar pangsa pasarnya.
Berdasarkan median 11 estimasi dalam survei Bloomberg terhadap pelaku industri perkebunan, pedagang, dan analis, ekspor minyak sawit Malaysia pada Mei 2026 turun 6,2% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi 1,22 juta ton. Angka tersebut merupakan level terendah sejak Februari setelah sebelumnya anjlok 14% pada April.
Pada periode yang sama, persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan meningkat 2,2% menjadi 2,36 juta ton. Sementara itu, produksi minyak sawit mentah (CPO) diperkirakan turun 4,9% menjadi 1,55 juta ton.
Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) dijadwalkan merilis data resmi pada 10 Juni.
Meski demikian, tidak semua analis memperkirakan ekspor Malaysia akan tetap melemah.
Analis Senior Fastmarkets Palm Oil Analytics yang berbasis di Singapura, Sathia Varqa, menilai ekspor sawit Malaysia berpotensi pulih pada Juni.
Menurutnya, pelemahan harga pada Mei mendorong sejumlah importir utama kembali melakukan pembelian setelah dua bulan sebelumnya menahan permintaan.
Selain itu, ketidakpastian terkait kebijakan ekspor Indonesia juga dapat mendorong sebagian pembeli meningkatkan pembelian dari Malaysia.
Kontrak berjangka minyak sawit acuan sempat turun hingga 1,1% pada Kamis menjadi 4.625 ringgit Malaysia per ton.
Dalam survei Bloomberg, persediaan minyak sawit Malaysia diperkirakan berada pada kisaran 2,22 juta hingga 2,59 juta ton.Produksi diproyeksikan berkisar antara 1,50 juta hingga 1,79 juta ton, sementara ekspor diperkirakan berada pada rentang 1,07 juta hingga 1,31 juta ton.
Impor diperkirakan mencapai sekitar 70.000 ton, turun dari 75.846 ton pada April. Sementara itu, konsumsi domestik diperkirakan berada pada kisaran 250.000 hingga 400.000 ton. Bun (idnfinancials.com)





