Presiden Prabowo Subianto menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 16/2025 mengenai Sistem Sertifikasi Kelapa Sawit Berkelanjutan Indonesia (ISPO) yang memperluas kewajiban lingkup sertifikasi ISPO di bidang usaha hulu perkebunan, industri hilir, dan usaha bioenergi.
Plt. Dirjen Perkebunan Kementerian Pertanian, Ali Jamil menyatakan, kelapa sawit memainkan peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan energi.
“Di sinilah peran penting Indonesia sebagai produsen terbesar minyak sawit dunia. Jumlah produksi minyak sawit Indonesia mencapai 53,6 juta ton pada 2025,” ujar dia, Rabu (29/4/2026).
Menurut Ali Jamil, kontribusi sawit sangat penting bagi perekonomian Indonesia dan penyeimbang devisa negara. Di satu sisi, kelapa sawit ini mendapatkan imej positif dari aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Namun, isu negatif tetap menjadi tantangan bagi kelapa sawit sebagai produk yang berkelanjutan dan dibutuhkan oleh dunia.
Ali Jamil menambahkan melalui ISPO ini pemerintah berupaya memperbaiki tata kelola industri sawit sekaligus meningkatkan daya saing dan kepercayaan pasar global terhadap produk sawit Indonesia. Hingga saat ini, penerapan ISPO menunjukkan tren yang positif dengan lebih dari 7,5 juta hektar lahan yang sudah tersertifikasi.
“Namun demikian, tantangan selanjutnya tidak hanya pada perluasan implementasi sertifikasi. ISPO bukan hanya strategi peningkatan produktivitas, tetapi kunci utama bagi penerimaan pasar global terhadap produk sawit,” jelas Ali Jamil.
Indonesia disebut menjadi negara pertama di dunia yang melakukan uji coba dan penerapan biodiesel B50 pada berbagai sektor transportasi. Bahkan, negara-negara lain mulai mencari tahu mengenai uji cobanya.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Eniya Listiani Dewi menerangkan program B50 menjadi kelanjutan dari jalan panjang pengembangan biodiesel 15 tahun terakhir. Ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama yang mengolah B50.
“Tentu saja program B50 ini sudah mempunyai sejarah yang panjang sejak 15 tahun yang lalu, dan kali ini kita membuktikan di dunia bahwa B50 itu hanya ada di Indonesia. Kita saat ini capaiannya sudah nomor 1 di dunia,” ungkap Eniya dalam Uji Coba B50 pada Kereta Api, di PUK Lempuyangan, Yogyakarta, Senin (17/4/2026).
Sebagai inisiator B50, Indonesia taka memiliki rujukan teknis dari negara lain mengenai program teranyar ini. “Bahkan tidak ada lagi rujukan-rujukan teknis yang bisa kita akses. Jadi tidak ada contohnya. Ini yang membuat kebanggaan bagi kita sendiri,” katanya.
Menurutnya, kondisi geopolitik global saat ini yang menuntut kemandirian energi menjadi momen tepat pengembangan B50. “Respons dari pemerintah untuk melakukan uji B50 ini memang sudah sejak tahun lalu. Jadi Pak Menteri (Bahlil Lahadalia) sudah menginisiasi untuk segera mempersiapkan dan sekarang kita tahu bahwa ternyata penting,” sambung dia.
Eniya mengatakan, banyak negara ingij mencari tahu mengenai uji coba penggunaan B50 di sektor transportasi ini. Bisa dibilang, hasil uji coba B50 terhadap kendaraan bertenaga diesel menjadikan Indonesia sebagai rujukan dunia.
“Saat ini banyak negara yang buru-buru berbondong-bondong datang ke kita untuk berkontak bagaimana sih menjalankan B50. Karena benar rujukannya, contohnya enggak ada selain di kita,” beber dia.
Eniya mengungkap, beberapa kendaraan pabrikan luar negeri juga turut serta dalam uji coba yang dimulai sejak 9 Desember 2025. Antara lain, kendaraan pabrikan Jepang, Korea Selatan, hingga Eropa turut menjajal B50. Bun (liputan6.com)





