ITS Kembangkan Bensin Kelapa Sawit, Perkirakan Hemat 10 Persen BBM Konvensional

Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan inovasi riset bensin biogasolin sawit ITS (Benwit) RON 90 sebagai bahan bakar alternatif berbasis kelapa sawit.

Dosen Teknik Material dan Metalurgi ITS sekaligus ketua tim penelitian, Hosta Ardhyananta, menyebut bahwa melalui pemanfaatan energi alternatif Benwit diperkirakan dapat menghemat sekitar 10 persen dari penggunaan bahan bakar minyak (BBM) nasional.

“Secara umum di dunia itu biogasolin itu sampai hari ini masih lima persen di dunia. Sehingga, kalau kita bisa mencapai 10 persen itu sudah hasil yang luar biasa cukup besar,” kata Hosta dalam demonstrasi yang diadakan di Galeri Riset dan Inovasi Teknologi (GRIT) ITS, Selasa (7/4/2026).

Dia menjelaskan, efesiensi yang diperoleh dalam pengolahan satu kali proses Benwit dapat menghasilkan sekitar 50 sampai 55 persen bensin sawit, tanpa tidur sama sekali.

“Selama ini tidak ada residu. Residu yang ada itu sebagaian kami gunakan untuk kompor bakar. Jadi semua prosesnya menghasilkan dan bisa digunakan,” ujarnya.

Dengan perbandingan sekitar 10 kilogram (kg) kelapa sawit dapat menghasilkan 50 persen atau sekitar 5 liter bensin.

Namun, sampai saat ini, penelitian yang dilakukan pada kendaraan motor maupun mobil masih dijalankan secara bertahap dengan menggunakan metode blending, yakni mencampurkan Benwit dengan bensin konvensional.

Baca Juga:  Harga CPO Naik Gila-gilaan, Sentuh Level Tertinggi 4 Bulan

“Sementara untuk mesin bakar yang ada saat ini, memerlukan hasil riset yang panjang karena itu membutuhkan modifikasi mesin yang banyak. Maka, kami lebih memilih ke blending karena tidak perlu banyak modifikasi mesin yang dilakukan sudah bisa menggunakan mesin-mesin yang ada,” kata Hosta.

Melalui penelitian yang dilakukan kurang lebih tiga tahun didapatkan emisi gas yang dihasilkan satu liter bensin hanya sekitar 10 persen dari 90 persen bensin yang digunakan.

“Kalau untuk efek di mesin masih membutuhkan penelitian lebih lanjut. Saat ini kami baru menggunakan skop pendek belum ada masalah, masih normal untuk bisa digunakan,” jelasnya.

Sementara itu, rektor ITS, Bambang Pramujati, mengatakan bahwa inovasi Benwit melalui konversi crude palm oil (CPO) menjadi bensin biogasolin sebagai solusi energi alternatif yang mendukung kemandirian energi nasional.

Dia menyebut, inovasi tersebut dapat menjadi solusi dari adanya keterbatasan cadangan BBM nasional saat ini akibat adanya krisis global.

“Kami melihat ini momen yang tepat karena adanya krisis energi yang saat ini di seluruh dunia. Jadi ini momentum yang kita bisa sampaikan yang semoga saja bisa membantu dalam menyelesaikan krisis energi,” pungkasnya. Bun (surabaya.kompas.com)

 

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
mbl swt
Kantong Petani Makin Tebal, Harga TBS Provinsi Babel Ditetapkan Naik Menjadi Rp3.514/kg
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
kisah-sukses-petani-sawit-jambi-kemitraan-strategis-membawa-harapan-baru
Kisah Sukses Petani Sawit Jambi: Kemitraan Strategis Membawa Harapan Baru
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Terbaru
Kebun-sawit
Pentingnya Riset di Industri Kelapa Sawit Indonesia
kembangkan
ITS Kembangkan Bensin Kelapa Sawit, Perkirakan Hemat 10 Persen BBM Konvensional
pusat
Pembahasan plasma sawit buntu, DPRD Kotim dorong konsultasi sampai ke pusat
ngeselin
Riset Sawit Diminta Lebih Aplikatif untuk Jawab Kebutuhan Pasar