Bos Sawit Usul Petani Rakyat Dikasih Biaya Hidup Saat Peremajaan Kebun

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, mengusulkan agar petani sawit mendapat dukungan biaya hidup selama menjalani peremajaan kebun atau replanting. Usulan itu disampaikan kepada Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman dalam pertemuan yang membahas kondisi industri sawit nasional.
Eddy menjelaskan, salah satu kendala utama program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) adalah keengganan petani menebang tanaman sawit mereka yang masih menghasilkan. Katanya, banyak petani khawatir kehilangan sumber pendapatan selama masa tunggu hingga tanaman baru kembali berproduksi.

“Nah, saya tadi sampaikan ke beliau (Mentan Amran) juga, bahwa ini masalah sebenarnya bukan hanya masalah perizinan, masalahnya justru di sini kadang-kadang si petani itu enggan. Contohnya sekarang, dengan harga TBS (tandan buah segar) Rp3.000 per kg, mereka tidak mau menebang tanamannya,” ujar Eddy dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Pertanian (Kementan), Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menurut dia, kekhawatiran tersebut sering disampaikan langsung oleh petani ketika diminta melakukan peremajaan kebun.

“Sehingga mereka sampaikan, ‘saya mau makan apa kalau saya tebang tanaman saya?’,” katanya.
Karena itu, Eddy menilai perlu ada solusi agar petani tetap memiliki penghasilan selama masa tunggu replanting. Ia mengusulkan adanya jaminan biaya hidup sementara bagi petani, sembari menunggu tanaman sawit baru mulai menghasilkan.

Baca Juga:  UNODC Kerja Sama dengan Industri Kelapa Sawit Memerangi dan Cegah Korupsi di Sektor Kelapa Sawit

“Nah ini yang harus dicarikan jalan keluar. Jalan keluarnya bagaimana? Selama menunggu… sekarang kan sawit sudah cukup sangat cepat ya, 2,5 tahun sudah menghasilkan. Jadi sebaiknya itu dipikirkan ada jaminan hidup, selain memang ada tanaman tumpang sari misalnya,” terang dia.

Ia mengatakan, usulan tersebut telah disampaikan kepada Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dan akan dibahas lebih lanjut sebagai bagian dari upaya mendorong percepatan program PSR (peremajaan sawit rakyat)

“Nah ini tadi saya sampaikan begitu, beliau setuju, jadi nanti untuk membicarakan supaya produksi kita bisa meningkat jauh lebih dari yang saat ini,” kata Eddy.

Menurutnya, persoalan penghasilan petani selama masa tunggu menjadi kunci penting agar program peremajaan sawit rakyat dapat berjalan lebih cepat.

“Terus terang petani belum ada usulan. Tetapi saya melihat di sini, sudah pasti mereka nggak mau, pasti mereka ngomongnya begini bahwa ‘saya makan apa?’, kan gitu. Ya itulah yang harus kita pecahkan bersama, begitu saja,” pungkasnya. Bun (cnbcindonesia.com)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
686ca7e56fddb
Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi
sawitt
Gapki: Volume Ekspor Sawit Tumbuh 9,5% pada 2025, China Penyumbang Terbesar
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
Terbaru
eddy_martono_PWI_GAPKI__
Dorong Pemahaman Bersama: Kelapa Sawit sebagai Komoditas Budidaya Berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014
pasokan-kelapa-sawit-buat-bahan-baku-b50-1_169
BPS Buka-bukaan Nasib Ekspor Kelapa Sawit di Tengah Mandatori B50
emm
Industri Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah dan Penerimaan Negara
whatttt
Sawit dan Ekonomi Nasional, BPDP Libatkan Media dalam Edukasi Publik