Produktivitas Sawit Diprediksi Naik 15 Persen Berkat Serangga Tanzania

Produktivitas perkebunan kelapa sawit diperkirakan mengalami peningkatan hingga 15 persen dengan memanfaatkan serangga penyerbuk yang berasal dari Tanzania. Hal ini diharapkan dapat mengoptimalkan pembentukan buah sawit.

Eddy Martono, Ketua Gabungan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), menyampaikan bahwa pemanfaatan serangga penyerbuk ini dapat meningkatkan produksi kelapa sawit secara signifikan. “Harusnya bisa naik sampai kira-kira sekitar 10 sampai 15 persen lah mestinya kenaikan produksinya kita harapkan dengan serangga penyerbuk,” kata Eddy, dikutip dari Kompas.com, saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3/2026).

Menurut Eddy, sumber daya genetik baru ini berpotensi mendongkrak produksi dari 24 ton TBS (Tandan Buah Segar) per hektar per tahun hingga dua kali lipat. Saat ini, serangga tersebut siap untuk dilepas di perkebunan sawit anggota GAPKI.

Eddy telah menemui Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman untuk meminta izin pelepasan serangga penyerbuk asal Tanzania tersebut pada bulan April mendatang di Medan, Sumatera Utara. “Rencana kita nih kita minta mohon Menteri yang melepas untuk ini. Karena ini sangat monumental, kenapa? Ini meningkatkan produktivitas, kan gitu,” ujar Eddy.

Baca Juga:  4,8 Juta Hektare Lahan Sawit Rakyat Butuh Peremajaan

Eddy menambahkan, dampak positif dari penggunaan serangga penyerbuk ini dapat dilihat dalam waktu relatif singkat. Hasilnya diperkirakan akan terlihat sekitar 6 bulan setelah pelepasan serangga di kawasan perkebunan. “Tapi memang ini sekarang pelepasannya terbatas, belum semua, masih di anggota-anggota konsorsium GAPKI yang ini, nanti setelah itu baru kita mulai lepas secara ini ke masyarakat juga,” tutur Eddy.

Secara terpisah, perwakilan GAPKI, Hadi Sugeng, menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis serangga penyerbuk yang didatangkan dari Tanzania, yaitu Herodotus cambricus, Herodotus lachitatus, dan Herodotus supitatus. Saat ini, ketiga jenis serangga tersebut sedang dikembangbiakkan di PPKS (Pusat Penelitian Kelapa Sawit) Medan. Hadi menambahkan bahwa proses pengembangbiakan ini membutuhkan waktu sekitar dua tahun sebelum serangga dapat dilepaskan di kebun. Bun (asatunews.co.id)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
686ca7e56fddb
Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi
sawitt
Gapki: Volume Ekspor Sawit Tumbuh 9,5% pada 2025, China Penyumbang Terbesar
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
Terbaru
eddy_martono_PWI_GAPKI__
Dorong Pemahaman Bersama: Kelapa Sawit sebagai Komoditas Budidaya Berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014
pasokan-kelapa-sawit-buat-bahan-baku-b50-1_169
BPS Buka-bukaan Nasib Ekspor Kelapa Sawit di Tengah Mandatori B50
emm
Industri Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah dan Penerimaan Negara
whatttt
Sawit dan Ekonomi Nasional, BPDP Libatkan Media dalam Edukasi Publik