Terobosan riset pupuk organik berbasis limbah kelapa sawit karya Dr. Joni dari SMAS Muhammadiyah Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah diklaim terbukti ampuh meningkatkan kualitas tanaman padi dengan membuat tanaman menjadi lebih subur.
“Alhamdulillah, padi kami telah kembali hijau setelah disemprot pupuk dari Pak Joni. Sebelumnya, padi kami sempat menguning (layu) karena terkena air asam, tapi setelah disemprot ini sekarang padinya sudah subur,” kata Rahman, salah seorang petani dari Desa Bapeang Kecamatan Mentawa Baru Ketapang di Sampit, Rabu.
Rahman yang merasakan dampak positif dari inovasi pupuk tersebut mengaku sangat senang, karena tanaman padinya berhasil diselamatkan setelah hampir rusak karena terkena air asam.
Penggunaan pupuk cair hasil olahan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) ini tidak hanya memberikan perbedaan visual yang kontras, tetapi tanaman padi miliknya menunjukkan perkembangan vegetatif yang lebih optimal dibandingkan sebelumnya.
“Tanaman yang disemprot pupuk ini terlihat lebih hijau dan segar. Berbeda dengan area yang tidak disemprot, daunnya cenderung menguning dan tampak kurang sehat,” ujar Rahman.
Kehadiran inovasi ini diharapkan menjadi solusi bagi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang harganya kian melambung.
Rahman optimistis jika diproduksi secara massal, pupuk organik ini mampu memangkas biaya operasional petani di Kotawaringin Timur secara signifikan.
Dukungan pemerintah daerah sangat dinantikan agar riset ini tidak berhenti di meja laboratorium. Transformasi limbah menjadi nutrisi tanaman ini dianggap sebagai langkah nyata dalam mewujudkan kemandirian sektor pertanian lokal di tengah tantangan ekonomi global.
“Kalau bisa, dilanjutkan penelitiannya dan diproduksi massal, tentu sangat membantu petani. Kami juga berharap ada dukungan pemerintah untuk kemajuan pertanian di Kotim,” harapnya.
Sementara itu, Dr. Joni menjelaskan pupuk limbah sawit tersebut masih dalam tahap penelitian dan belum masuk uji coba lapangan secara luas.
Penelitian yang dilakukan di kawasan PT Sampit International ini bertujuan mengonversi limbah berbahaya menjadi produk bernilai guna. Hal ini sejalan dengan program pemerintah daerah, khususnya dalam pengelolaan sampah dan penguatan ketahanan pangan.
Terlebih, menurutnya penumpukan tandan kosong sawit tanpa pengolahan berisiko melepaskan gas amonia dan karbon dioksida ke atmosfer.
Tanpa penanganan yang tepat, pembusukan alami limbah sawit dapat memperburuk pemanasan global dan merusak lapisan ozon. Oleh karena itu, riset ini hadir untuk menyelaraskan program pengelolaan sampah daerah dengan penguatan ketahanan pangan nasional.
“Jika tandan kosong sawit dibiarkan menumpuk, pembusukannya menghasilkan gas berbahaya yang berkontribusi pada pemanasan global. Kami menawarkan solusi konkret melalui riset ini,” jelas Joni.
Ia melanjutkan, inovasi ini tidak hanya bertujuan mengurangi limbah, tetapi juga mendorong kemandirian pertanian lokal melalui pemanfaatan pupuk organik.
Meski menjanjikan, riset ini sempat terhambat akibat terhentinya pasokan limbah pasca inspeksi mendadak (sidak) oleh DPRD dan DLH Kotim. Padahal, pihak sekolah telah melayangkan pemberitahuan resmi terkait kegiatan akademik non-komersial ini sejak akhir 2025 lalu.
SMAS Muhammadiyah Sampit telah menyampaikan pemberitahuan resmi kepada DLH Kotim pada 15 Desember 2025. Karena bersifat akademik dan tidak berorientasi komersial, kegiatan tersebut dinilai tidak memerlukan perizinan layaknya usaha industri.
Joni menyayangkan adanya hambatan birokrasi yang justru menyasar ranah ilmiah. Menurutnya, penelitian independen harus dilindungi karena tujuannya murni untuk membantu daerah dalam mengatasi masalah penumpukan sampah organik di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).
“Kami menawarkan solusi konkret. Sampah di Kotim sudah menumpuk di TPA, ditambah limbah sawit yang jika tidak dikelola dengan baik justru membahayakan lingkungan. Ranah ilmiah jangan sampai tercampur dengan kepentingan lain,” tegasnya.
Ia menambahkan, inovasi pupuk dari limbah sawit ini menunjukkan potensi besar dalam dua aspek sekaligus, yakni pengelolaan lingkungan dan peningkatan produktivitas pertanian.
Jika dikembangkan secara serius dengan dukungan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, riset ini dapat menjadi solusi berkelanjutan bagi daerah penghasil sawit seperti Kotawaringin Timur.
”Dukungan regulasi yang jelas serta kolaborasi antara peneliti, pemerintah, dan sektor swasta sangat dibutuhkan agar penelitian tidak terhenti di tengah jalan. Dengan sinergi yang tepat, limbah sawit bukan lagi menjadi beban lingkungan, melainkan sumber daya bernilai bagi ketahanan pangan daerah,” demikian Joni. Bun (antaranews.com)





