Menperin: Nilai Tambah Kelapa Sawit Bernilai Empat Kali Lipat

JAKARTA-Kementerian Perindustrian meningkatkan nilai tambah kelapa sawit menjadi oleofood complex yakni pangan dan nutrisi, oleochemical and biomaterial complex atau bahan kimia dan pembersih, dan bahan bakar nabati berbasis sawit di antaranya biodiesel, greendiesel, greenfuel, dan biomass.

“Hilirisasi minyak sawit yang diolah menjadi berbagai produk turunan dapat menghasilkan nilai tambah sampai dengan empat kali lipat,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita sebagaimana ditulis Media Indonesia yang dikutip dari Antara, Sabtu, 24 Desember 2022.

Hingga September 2022, ekspor produk industri berbasis kelapa sawit telah mencapai USD 29 miliar. Kemenperin juga mendorong hilirisasi di industri petrokimia. Upaya ini dinilai strategis karena dapat menghasilkan bahan baku primer untuk menopang banyak industri manufaktur hilir penting seperti tekstil, otomotif, mesin, elektronika, dan konstruksi.

“Pemerintah saat ini tengah mengawal sejumlah proyek pembangunan industri petrokimia raksasa, di antaranya investasi petrokimia di Cilegon, gasifikasi batu bara di Muara Enim, serta di Bintuni Papua,” ujar Agus.

Hingga Oktober 2022, kinerja ekspor dari industri kimia juga menunjukkan capaian yang gemilang, yakni sebesar USD18,5 miliar atau naik 20 persen dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Baca Juga:  ESDM Umumkan Target B35, Harga CPO Dibuka Menguat

“Kami perkirakan pada tahun 2022 ini akan mencapai USD21-23 miliar, dan pada tahun 2023 ditargetkan bisa di angka USD25 miliar,” sebutnya.

Menperin menambahkan, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa hilirisasi energi hijau juga menjadi kunci untuk menopang perekonomian nasional ke depan.

Dalam hal ini, Kemenperin terus membangun ekosistem sirkular ekonomi melalui implementasi industri hijau.

“Industri hijau adalah upaya kita bersama dalam membangun industri nasional yang tangguh namun selaras dan harmonis antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan serta kesehatan masyarakat,” terangnya.

Agus menyampaikan, beberapa tantangan saat ini yang perlu mendapat perhatian agar kebijakan hilirisasi industri bisa berjalan baik, antara lain adalah ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten, perluasan kerja sama internasional untuk mengisi pasar ekspor baru seperti Eropa dan Afrika, pemberian fasilitas insentif.

Selain itu, memperkuat kemampuan negosiasi dan posisi dalam upaya menghadapi tekanan dari perdagangan dan diplomasi internasional.

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
6a1d4b6f35e8d
Petani Sawit Keluhkan Besarnya Bea Keluar dan Pungutan Ekspor, Negara Dapat Rp 1000 per 1 Kg
tanda-tangan
Gubernur Babel wajibkan perusahaan sawit bantu koperasi
686ca7e56fddb
Pajak Air Permukaan untuk Sawit Dikritik, Berpotensi Tekan Industri dan Investasi
TBS-sawit
Sawit dan Biofuel di Papua: Harga Mahal Transisi Energi Indonesia
Terbaru
eddy_martono_PWI_GAPKI__
Dorong Pemahaman Bersama: Kelapa Sawit sebagai Komoditas Budidaya Berdasarkan UU No. 39 Tahun 2014
pasokan-kelapa-sawit-buat-bahan-baku-b50-1_169
BPS Buka-bukaan Nasib Ekspor Kelapa Sawit di Tengah Mandatori B50
emm
Industri Sawit Jadi Motor Penggerak Ekonomi Daerah dan Penerimaan Negara
whatttt
Sawit dan Ekonomi Nasional, BPDP Libatkan Media dalam Edukasi Publik