Musim Kemarau Mengadang, RI Siapkan Strategi jaga Produktivitas Kopi-Kelapa Sawit Cs

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan mitigasi memasuki musim kemarau 2026 terhadap sektor perkebunan nasional, guna menjaga produktivitas komoditas strategis seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan tebu tetap stabil. Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah mendorong strategi adaptasi untuk memastikan produktivitas perkebunan. “Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” kata Amran dalam keterangan tertulis dikutip Kamis (19/3/2026). Beberapa langkah yang diambil Direktorat Jenderal Perkebunan selain varietas tahan kekeringan yakni konservasi tanah dan air, hingga pengelolaan kebun yang lebih efisien. Selain itu, Kementan menyampaikan pendampingan pekebun juga ditingkatkan, terutama untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang meningkat selama musim kemarau. Sementara itu, Plt Direktur Jenderal Perkebunan Kementan Abdul Roni Angkat menilai pengelolaan kebun yang adaptif menjadi kunci utama.

“Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” ujar Abdul. Dia menyampaikan pemerintah mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim, berupa kebun percontohan untuk melatih pekebun menerapkan teknik hemat air, pengelolaan kebun saat kemarau, hingga pemanfaatan limbah menjadi pupuk organik. Di samping itu, sambung dia, penguatan tata kelola air juga dilakukan, termasuk di lahan gambut melalui pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah. Selain itu, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan untuk mencegah kebakaran lahan saat musim kemarau. Abdul menambahkan, kesiapsiagaan di lapangan diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api. Di tingkat pekebun, Kementan mengimbau agar pekebun melakukan langkah adaptif, seperti penggunaan pupuk organik, efisiensi pemupukan, pemantauan tanaman rutin, hingga teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori untuk menyimpan cadangan air. Bun (ekonomi.bisnis.com)

Baca Juga:  Minyak Sawit Berkontribusi 42% Terhadap Total Supply Minyak Nabati Dunia

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
mbl swt
Kantong Petani Makin Tebal, Harga TBS Provinsi Babel Ditetapkan Naik Menjadi Rp3.514/kg
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Terbaru
kompo
Mentan Sebut Ekspor CPO Menguat, RI Kokoh Jadi Raja Sawit Dunia
sawity
Akademisi: "Traceability" Penting bagi Industri Sawit Nasional
orang oranggg
PTPN IV PalmCo gandeng ITS kembangkan bensin sawit
aspekpir
Aspekpir Yakinkan Pekebun Ikut PSR