GAPKI Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah terhadap Ekspor Sawit

Eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mulai memunculkan kekhawatiran di sektor industri global, termasuk industri kelapa sawit Indonesia. Pelaku usaha menilai konflik tersebut berpotensi mengganggu jalur pelayaran internasional yang menjadi rute utama ekspor minyak sawit.

Margarin & Minyak Goreng

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Eddy Martono mengatakan risiko utama yang perlu diwaspadai adalah terganggunya transportasi laut. Jika jalur pelayaran terdampak konflik, aktivitas ekspor sawit Indonesia juga berpotensi ikut terhambat.

“Pertama, yang menjadi masalah adalah transport terganggu, kalau transport terganggu ekspor akan terganggu, tetapi kita 1 sampai 2 minggu ke depan, atau kalau terpaksa harus memutar untuk ekspor ke Uni Eropa ini akan menyebabkan adanya penambahan biaya transport,” ujar Eddy pada Rabu (4/3/2026).

Menurut dia, kapal pengangkut CPO masih dapat mengambil rute alternatif untuk menghindari wilayah konflik. Namun langkah tersebut akan menambah jarak pelayaran dan meningkatkan biaya logistik.

Selain biaya transportasi yang meningkat, industri sawit juga mewaspadai dampak lanjutan pada rantai pasok di dalam negeri. Jika ekspor terhambat dalam waktu lama, pasokan CPO berpotensi menumpuk di tangki penyimpanan.

“Kalau gangguan ini terlalu lama dan ekspor terganggu bisa terjadi masalah di hulu, yaitu tanki bisa penuh,” kata Eddy.

Baca Juga:  OPINI: Tata Kelola Sawit Rakyat Berkelanjutan

Ia menjelaskan, kondisi tangki yang penuh dapat menekan harga CPO di dalam negeri karena pasokan melimpah. Situasi serupa pernah terjadi pada 2022 saat pemerintah memberlakukan larangan ekspor minyak sawit.

“Harga dalam negeri akan jatuh karena stok melimpah seperti tahun 2022 waktu larangan ekspor,” ujarnya.

Meski demikian, Eddy menegaskan kondisi saat ini masih relatif normal dan belum terjadi penumpukan stok yang signifikan. “Belum (meluber), masih normal,” katanya.

Menurut dia, perkembangan situasi dalam satu hingga dua minggu ke depan akan menjadi indikator apakah konflik tersebut benar-benar berdampak pada transportasi laut dan ekspor sawit Indonesia.

“Kita lihat 1-2 minggu ke depan apakah transportasi terganggu, sebenarnya ini tidak murni seperti tahun 2022 karena masih bisa memutar, hanya ada penambahan biaya transport,” ujar Eddy.

Ia juga mengakui ruang intervensi pemerintah terbatas karena konflik terjadi di luar wilayah Indonesia. “Agak sulit ya, paling pemerintah minta agar perang dihentikan,” kata Eddy.

Kawasan Timur Tengah sendiri merupakan salah satu jalur penting perdagangan global. Jika konflik memicu gangguan pelayaran di wilayah tersebut, biaya logistik dan arus perdagangan komoditas dunia, termasuk minyak sawit, berpotensi ikut terdampak. Bun (sawitsetara.co)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
mbl swt
Kantong Petani Makin Tebal, Harga TBS Provinsi Babel Ditetapkan Naik Menjadi Rp3.514/kg
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
CREATOR: gd-jpeg v1
Produksi dan Ekspor Kelapa Sawit Indonesia Meningkat pada 2025 Kementan Fokus Hilirisasi dan Keberlanjutan Perkebunan
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Terbaru
bri-replanting-kebun-plasma
BRI Siap Biayai Replanting Kebun Plasma Hingga Rp635 Miliar
tanda-tangan
Gubernur Babel wajibkan perusahaan sawit bantu koperasi
927735ad-3c0d-4dc8-8ff7-924ae822fda7_169
RI Bakal Punya Pabrik BBM Limbah Sawit, Bisa untuk Kapal-Pembangkit!
IMG-20260424-WA0018_compressed
DIALOG NASIONAL TRANSFORMASI PENGELOLAAN KELAPA SAWIT BERKELANJUTAN