Kemitraan Inti-Plasma Dinilai Jadi Kunci Daya Saing Industri Sawit Nasional

Penguatan kemitraan antara perusahaan inti dan petani plasma dinilai menjadi kunci menjaga produktivitas sekaligus meningkatkan daya saing industri kelapa sawit nasional di tengah tuntutan penerapan standar keberlanjutan.

Pandangan tersebut mengemuka dalam Dialog Sawit bertajuk Memperkuat Kemitraan Inti dan Plasma yang diselenggarakan Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat (Aspekpir) Indonesia di Pekanbaru, Rabu (1/7/2026). Kegiatan itu juga dirangkaikan dengan peluncuran dan bedah buku Setiyono: Kisah dan Rahasia Sukses Petani Sawit Plasma Transmigrasi.

Ketua Umum Aspekpir Indonesia Setiyono mengatakan kemitraan inti-plasma perlu diperkuat melalui kolaborasi antara petani, perusahaan, pemerintah, dan pelaku usaha untuk menjawab tantangan modernisasi sektor perkebunan.

“Kami ingin kegiatan ini menjadi ajang bertemunya gagasan, pengalaman, inovasi, dan teknologi. Kehadiran pameran serta demo operasional motor perkebunan dari Viar Motor merupakan salah satu bentuk dukungan teknologi bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi usaha perkebunan sawit,” ujarnya.

Menurut Setiyono, forum tersebut diharapkan tidak hanya menghasilkan rekomendasi strategis, tetapi juga memperluas kolaborasi dalam mendukung transformasi industri sawit nasional.

Kepala Dinas Perkebunan Provinsi Riau Supriadi mengatakan kelapa sawit masih menjadi komoditas strategis yang berkontribusi besar terhadap devisa, penciptaan lapangan kerja, dan pertumbuhan ekonomi nasional.

Dia menilai perkembangan industri sawit tidak terlepas dari Program Perkebunan Inti Rakyat (PIR) yang mulai dikembangkan pemerintah sejak 1986.

“Kami mengapresiasi penyelenggaraan dialog ini. Kami berharap forum ini mampu melahirkan berbagai terobosan baru untuk mendukung kemajuan perkebunan kelapa sawit Indonesia,” katanya saat membuka kegiatan tersebut.

Supriadi juga menilai buku yang diluncurkan dalam forum tersebut menjadi dokumentasi penting mengenai sejarah pembangunan perkebunan sawit berbasis kemitraan.

“Buku ini merupakan jejak perjuangan petani kelapa sawit PIR. Kami berharap buku ini menjadi pemantik semangat bagi generasi muda dan petani kelapa sawit, khususnya di Provinsi Riau,” katanya.

Baca Juga:  Indonesia Ekspor 10.500 Kecambah Sawit Unggul Indonesia ke Kolombia

Sementara itu, Perancang Peraturan Ahli Madya Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Togu Saragih mengatakan pola kemitraan telah lama dikembangkan pemerintah sebagai instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Menurutnya, hubungan kemitraan menciptakan ketergantungan yang saling menguntungkan karena perusahaan memberikan pembinaan, pendampingan, serta akses pasar kepada pekebun.

“Pada pola ini harga sawit akan lebih stabil lantaran adanya pembinaan dan pendampingan dari perusahaan untuk menghasilkan produksi yang bagus,” ujarnya.

Direktur Hubungan Kelembagaan PTPN IV PalmCo Arya Sandhiyudha mengatakan kemitraan inti-plasma menjadi salah satu pilar dalam membangun industri sawit yang lebih inklusif, produktif, dan berkelanjutan.

Menurut dia, selain meningkatkan produktivitas kebun, kemitraan juga diarahkan untuk mendorong penerapan praktik budidaya yang baik, pemenuhan aspek lingkungan dan sosial, serta percepatan sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO).

Ke depan, PTPN IV PalmCo berencana memperluas kolaborasi dengan koperasi, pemerintah, lembaga pembiayaan, dan pemangku kepentingan lainnya guna memperkuat pola kemitraan tersebut.

Senada, Direktur Eksekutif Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Mukti Sardjono mengatakan keberhasilan kemitraan inti-plasma menjadi fondasi untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, sekaligus kesejahteraan pelaku usaha kelapa sawit.

Menurutnya, kemitraan tidak cukup dipandang sebagai hubungan bisnis antara perusahaan dan pekebun, tetapi harus dibangun melalui kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, mulai dari koperasi, perusahaan, pemerintah daerah, hingga pemerintah pusat.

Mukti juga menilai Program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) dapat menjadi momentum untuk membangun kemitraan baru bagi pekebun swadaya sekaligus menghidupkan kembali kemitraan yang sempat terhenti.

Dalam dialog tersebut, sejumlah narasumber dari Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, BPDP, PTPN IV PalmCo, Gapki, Pemerintah Provinsi Riau, dan Aspekpir membahas berbagai isu strategis, mulai dari penguatan kemitraan inti-plasma, transformasi sektor perkebunan, keberlanjutan industri sawit, hingga peningkatan kesejahteraan petani. Bun (sumatra.bisnis.com)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Permendan 13
Peraturan Menteri Pertanian No.13 tahun 2024 tentang Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Perkebunan Mitra
Terbaru
menkop-
Koperasi Masuk Bisnis Sawit: Bakal Bangun Pabrik CPO Sendiri
sawittttttt
Kemitraan Inti-Plasma Dinilai Jadi Kunci Daya Saing Industri Sawit Nasional
astra-agro-
Astra Agro Lestari Perkuat Ekosistem Sawit Lewat Inovasi dan Kolaborasi
1011143967p
GAPKI : Indonesia Belum Ada Acuan Harga Sawit yang Seragam