Jakarta- Ketua Umum Aspekpir Indonesia, Setiyono menegaskan bahwa pola kemitraan inti-plasma menjadi kunci keberlanjutan perkebunan kelapa sawit rakyat di Indonesia.
Dalam paparannya pada seminar dalam rangka pameran Palmex 2026 yang berlangsung di JIExpo Kemayoran pada 6-7 Mei 2026, dia menjelaskan menjelaskan bahwa pola kemitraan telah terbukti memberikan manfaat besar bagi pekebun sawit rakyat sejak program PIR-BUN, PIR-TRANS hingga KKPA dikembangkan pemerintah sejak awal 1980-an.

Di dalam makalahnya bertajuk “Kemitraan Inti Plasma Kunci Keberlanjutan Sawit Indonesia”, Setiyono mengatakan kemitraan menciptakan hubungan saling membutuhkan antara perusahaan inti, koperasi, pemerintah, dan pekebun sehingga pembangunan perkebunan sawit berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.
Ia menyebutkan, melalui pola kemitraan, petani memperoleh kepastian penjualan hasil panen tandan buah segar (TBS), sementara perusahaan mendapatkan kepastian pasokan bahan baku.
Selain itu, harga TBS juga memiliki acuan resmi melalui regulasi pemerintah sehingga memberikan perlindungan bagi pekebun. “Kemitraan ibarat roda gigi mesin yang saling terkait, saling membutuhkan dan saling menguntungkan,” ujar Setiyono dalam seminar tersebut.
Setiyono juga menilai pola kemitraan mampu memperkuat kelembagaan petani melalui koperasi dan kelompok tani.
Dengan pendampingan perusahaan inti, petani dapat menerapkan Good Agriculture Practices (GAP), mulai dari penggunaan bibit unggul, pengelolaan lahan, pemupukan, pengendalian hama, hingga proses panen yang sesuai standar. Hal ini dinilai penting untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga keberlanjutan industri sawit nasional.

Menurut data Aspekpir Indonesia, program PIR dan KKPA saat ini tersebar di 20 provinsi dengan luas kebun plasma mencapai lebih dari 813 ribu hektare dan melibatkan sekitar 406 ribu kepala keluarga pekebun. Organisasi tersebut juga aktif mendorong peremajaan sawit rakyat generasi kedua agar produktivitas kebun tetap terjaga di tengah banyaknya tanaman sawit yang telah memasuki usia tua.
Dalam kesempatan itu, Setiyono menekankan bahwa penguatan kemitraan menjadi langkah penting untuk memperbaiki tata kelola perkebunan sawit rakyat. Ia berharap kemitraan dapat terus diperkuat agar petani memperoleh akses pembinaan teknis, pembiayaan, serta peningkatan kualitas hasil panen sehingga kesejahteraan pekebun sawit Indonesia semakin meningkat. Bun





