GAPKI Soroti Rencana Pajak Air Permukaan Rp1.700 per Pohon Sawit

GAPKI menyampaikan keberatan atas rencana pemerintah daerah yang akan memberlakukan Pajak Air Permukaan (PAP) sebesar Rp1.700 per pohon kelapa sawit. Kebijakan ini dinilai berpotensi menambah beban berat bagi industri sawit nasional yang saat ini tengah menghadapi berbagai tantangan.

Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, menegaskan bahwa rencana pungutan baru tersebut menimbulkan kekhawatiran serius di kalangan pelaku usaha. Pasalnya, industri kelapa sawit saat ini sudah dibebani berbagai kewajiban pajak dan biaya lainnya.

“Di berbagai pemberitaan, sawit akan dikenakan lagi Pajak Air Permukaan sebesar Rp1.700 per pohon. Ini jelas menjadi tambahan beban bagi industri,” ujar Eddy dalam konferensi pers di Jakarta.

Menurutnya, sektor kelapa sawit justru membutuhkan kebijakan yang lebih kondusif agar tetap kompetitif di pasar global. Penambahan pungutan baru dinilai tidak sejalan dengan upaya memperkuat daya saing industri strategis nasional tersebut.

Eddy juga menilai bahwa kebijakan Pajak Air Permukaan (PAP) seharusnya tidak perlu diberlakukan karena berpotensi meningkatkan biaya operasional perusahaan secara signifikan.

Baca Juga:  BPDPKS Harapkan Program Akselerasi Replanting Mampu Capai Target PSR Per Tahun.

“Pungutan seperti ini seharusnya tidak ada karena hanya akan menambah tekanan bagi pelaku usaha,” tegasnya.

Senada dengan itu, Sekretaris Jenderal GAPKI, Hadi Sugeng Wahyudiono, menyatakan pihaknya akan terus memperjuangkan pembatalan rencana kebijakan tersebut. Ia menilai, penambahan pajak baru tidak relevan mengingat industri sawit sudah memenuhi berbagai kewajiban terkait pemanfaatan sumber daya air.

“Kalau kebijakannya tidak masuk akal, sebaiknya ditolak. Kami jelas keberatan dengan rencana ini,” ujarnya.

Lebih lanjut, GAPKI juga tengah menyiapkan kajian mendalam terkait potensi tumpang tindih regulasi dalam pengelolaan sumber daya air. Kajian tersebut mencakup berbagai aturan terkait penggunaan air permukaan, air tanah, hingga air hujan yang dinilai masih belum sinkron.

Menurut GAPKI, ketidakjelasan regulasi ini berpotensi menambah kompleksitas dan biaya bagi pelaku usaha di sektor perkebunan kelapa sawit.

“Ke depan, hal ini bisa menimbulkan persoalan baru jika tidak segera ditata dengan baik,” pungkas Eddy. Bun (gapki.id)

Bagikan:

Informasi Terkait
Populer
a_6a16c02e21f0c
Kuasai Pasar Nasional, Ini Daftar 10 Perusahaan Sawit Terbesar di Indonesia
0180d4bcc758ace3559f88820574900e
Mulai 2026, Perizinan Pabrik Kelapa Sawit Beralih dari Kabupaten ke Provinsi
menteri-agraria-dan-tata-ruangbadan-pertanahan-nasional-artbpn-nusron-wahid_169
Aturan Plasma Sawit Wajib Bagi Perusahaan Naik Jadi 30%
Permendan 13
Peraturan Menteri Pertanian No.13 tahun 2024 tentang Pembelian Tandan Buah Segar Kelapa Sawit Produksi Perkebunan Mitra
Terbaru
kementerian_perindustrian_105338_big
Indonesia Dorong Diplomasi Industri melalui Inovasi Bioenergi Sawit di Rusia
pppp
Khudori: Sebaiknya Dibentuk Badan Khusus Saja
hhhh
PalmCo Kebut Sertifikasi 5.120 Pekerja, SDM Jadi Kunci Daya Saing Sawit
tandan
Mentan: Hilirisasi Sawit melalui B50 Perkuat Ketahanan Energi dan Kesejahteraan Petani, Kalbar Ikut Terdampak