16 Penemuan Siap Di Komersialisasi Badan Pengelola Dana Perkebunan

Jakarta – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Kelapa kembali melakukan kerjasama dengan Asosiasi Inventor Indonesia (AII)  untuk melakukan valuasi dan komersialisasi teknologi hasil riset, terhadap 88 Invensi hasil riset GRS 2021-2023.

Tim Ahli Internal dan Eksternal AII, akhirnya memutuskan 16 Invensi yang siap dikomersialisasi dimana 9 diantaranya kemudian menandatangani Surat Pernyataan  dan 4 (empat) diantaranya telah mendapatkan Perjanjian Kerahasiaan.

Pada periode sebelumnya, AII dengan mendapatkan 2 LOI dan 1 NDA. Selanjutnya ada 2 (dua) invensi yang siap Komersil SLL yakni penemuan dari Dr. Erwinsyah, PPKS Unit Bogor yang sdh komersial  dan  komersialisasi lemak calsium oleh Prof Lienda yang telah uji coba pada lingkungan sebenarnya dengan KPBS pengalengan.

Menurut Ketua Umum AII, Prof. Didiek Hadjar Goenadi, jalinan kerjasama antara pihak BPDP dan pihak AII ini sejalan dengan salah satu Misi AII, yaitu membantu para penemu untuk mengatasi kendala atau hambatan dalam  komersialisasi temuannya, memperkuat kemampuan inventor dalam berinvensi, dan membekali inventor dengan kemampuan memasarkan invensinya.

Terkait hal itu, dalam sosialisasinya, AII menyelenggarakan Seminar 2  dengan Topik Teknologi Kelapa Sawit untuk Peningkatan  daya Saing Industri, hari ini Jumat (28/02/25) di Jakarta.

Pada seminar kedua yang dihadiri oleh para inventor, akademisi, regulator, asosiasi dan investor atau pengusaha, termasuk 2 investor asal Cina, menampilkan para pemateri yaitu Lila Harsyah Bakhtiar-Direktur Industri dan Hasil Pertanian Kementerian Perindustrian; Muhammad Alfansyah, Direktur Penyaluran  Dana BPDP; Petrus Tjandra, CEO Agro Investama Group.

Komitmen AII Dalam Pengembangan Industri Sawit Nasional

Dalam paparannya, Muhammad Alfansyah mengatakan bahwa AII sebagai mitra dari BPDP selalu berkomitmen untuk berpartisipasi dalam perkembangan industri sawit di Indonesia.

Mereka melakukan penilaian terhadap invensi yang punya potensi untuk di komersialisasikan dan menjadi jembatan antara inventor dengan industri.

“Setiap tahun ada sekitar 800 invensi dan tahun ini diperkirakan mencapai 1.000 invensi yang diberikan pendanaan oleh BPDP dalam program GRS. Sehingga diharapkan hasil invensi yang bisa dikembangkan lebih lanjut akan memberikan dampak yang baik bagi industri sawit Indonesia yang hingga saat ini masih menghadapi tantangan. Kami mengucapkan terimakasih kepada AII yang telah bekerja sama dan menyelenggarakan seminar ini sebagai sarana sosialis,”kata Muhammad Alfansyah.

Baca Juga:  Tumpang Sari Padi Gogo Digenjot Untuk Dukung Ketahanan Pangan

Muhammad Alfansyah juga mengatakan dana yang dikumpulkan dari pungutan ekspor CPO yang digunakan sebagai program penelitian dan pengembangan masih sangat kecil, secara persentase nilai rupiahnya mungkin hanya 1-2% saja, jadi diharapkan selain kualitas tetapi kuantitasnya bisa lebih didorong untuk terlibat tetapi tantangannya sebagai contoh dari sekitar 400 penelitian yang pernah kita biayai baru 26 yang memungkinkan untuk bisa dikomersialisasi, 16 sudah komersialisasi dan 10 menuju komersialisasi dan 4 sudah NDA.

“Mudah-mudahan ke depan di GRS berikutnya, di 2025 dan seterusnya lebih banyak lagi hasil-hasil penelitian yang bisa benar-benar langsung dimanfaatkan oleh masyarakat. Sehingga ketika ada pertemuan dengan para pengusaha dan pertanyaan pemakaian anggaran BPDP berdasarkan pungutan ekspor yang di bayarkan oleh perusahaan sawit yang melakukan ekspor penggunaannya dapat dipertanggungjawabkan,”jelasnya.

Riset Untuk Kemandirian Dan Kedaulatan Bangsa

Sementara itu, Petrus Tjandra, menyampaikan bahwa riset itu bukan hanya untuk ilmu tapi untuk kemandirian dan kedaulatan bangsa sehingga invensi yang bisa dikomersialisasikan sangat diperlukan. AII punya peranan dalam hal ini.

“Invensi itu akan menghasilkan hal yang baru yang turut mengembangkan industri sawit di Indonesia namun inventor tidak hanya memerlukan dukungan moril tetapi juga materi atau pendanaan karenanya persentase hasil penelitian yang kita sudah buat yang bisa jadi di aplikasikan, masih sedikit,” kata Petrus Tjandra.

Petrus mengatakan dirinya pernah mengalami kesulitan berhadapan dengan peneliti, ada peneliti yang hanya meneliti berdasarkan ilmunya saja, hasilnya yang penting ada, yang mungkin tidak bisa diaplikasikan secara komersial.

“Padahal bahwa riset itu bukan hanya untuk ilmu tapi untuk kemajuan dan kemandirian serta kedaulatan bangsa. Kita lihat kalau kondisi kita masih seperti ini, contohnya sandang hampir 97% sandang kita dari kapas yang 100% impor, dan ini tidak ada yang pernah ribut, udah merdeka hampir 80 tahun, sandangnya masih import. Padahal bila ada hasil komersialisasi dari biomassa turunan dari sawit ini bisa diminimalisir, ” pungkas Petrus. (Beritakota.id)

Bagikan:

Informasi Terkait

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Populer
gubernur-riau-abdul-wahid-fotodiskominfo-riau-3w9xf-u4fg
Riau Berusaha Rebut Hak Kelola Kebun Eks Sawit Duta Palma
pekerja-mengangkut-kelapa-sawit-kedalam-jip-di-perkebunan-sa-lg9t
Rekonsiliasi Ekonomi Sawit dan Keberlanjutan Lingkungan
Slide1
Luas Kebun Plasma Mitra PTPN V Riau Tembus 56.000 Hektare
kelapa-sawit
Begini Cara Membuat Pakan Ikan dari Bungkil Kelapa Sawit
Terbaru
gubernur-riau-abdul-wahid-fotodiskominfo-riau-3w9xf-u4fg
Riau Berusaha Rebut Hak Kelola Kebun Eks Sawit Duta Palma
1973583465p
Meski Ada B40, Produksi CPO Nasional Berpotensi Tumbuh Terbatas
sebanyak-10-perusahaan-pengolahan-minyak-mentah-kelapa-sawit-c9ei (1)
Ekspor Minyak Sawit Sumbang Devisa Negara Capai Rp 440 Triliun
1858390282p
Ekspor Kelapa Sawit Turun Jadi Rp 440 triliun Sepanjang Tahun 2024