Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menyebut, peremajaan atau penanaman kembali (replanting) pohon sawit bisa membuat produktivitas meningkat dua kali lipat. Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan, setiap hektar perkebunan yang telah menjalani replanting bisa menghasilkan 20 ton tandan buah segar (TBS) per tahun. “Dari cuma 10 ton TBS per hektar per tahun yang sekarang ini, bahkan di bawah itu, bisa naik menjadi 20 ton kan dua kali lipat,” kata Eddy saat ditemui di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Menurut Eddy, petani tidak perlu menunggu waktu terlalu lama setelah penanaman kembali dilakukan sampai bisa memanen.
Dalam waktu 2,5 tahun, pohon sawit yang ditanami ulang itu sudah berbuah dan akan meningkat pesat dalam beberapa tahun kemudian. “Mungkin 5 tahun kemudian sudah itu sudah meningkat luar biasa,” ujar Eddy.
Ia menuturkan, produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) pada 2025 meningkat sampai 51 juta ton dan menjadi 56 juta ton ketika ditambahkan minyak minyak inti kelapa sawit (palm kernel oil/PKO). Peningkatan produktivitas itu dampak dari replanting yang dilakukan perkebunan sawit milik perusahaan.
“Seharusnya, produksi kita bisa jauh di atas ini apabila peremajaan sawit rakyat (PSR) itu berjalan dengan baik,” tutur Eddy.
Saat ini, PSR mengalami stagnasi bukan karena persoalan perizinan melainkan karena petani enggan menebang tanamannya yang sudah berusia tua.
Mereka mempertanyakan sumber penghidupan kepada GAPKI ketika pohon sawit ditebang dan ditanami dengan bibit baru.
“Kadang-kadang si petani itu enggan. Contohnya sekarang, dengan harga TBS 3.000, mereka tidak mau menebang tanamannya,” kata Eddy.

Menurut Eddy, saat ini tanaman sawit yang baru ditanam sudah bisa kembali dipanen dalam waktu 2,5 tahun.
Oleh karena itu, GAPKI dan pemerintah mencoba mencari jalan keluar bagi perkebunan sawit rakyat yang bersedia melakukan replanting, di antaranya dengan tanaman tumpang sari.
Usulan itu GAPKI sampaikan kepada Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan disetujui. “Supaya produksi kita bisa meningkat jauh lebih dari yang saat ini,” jelas Eddy.
“Karena kebutuhan kita tuh terus meningkat dengan adanya program biodiesel. Itu terus meningkat, seperti itu,” tambahnya.
Eddy berharap, program replanting itu bisa diwajibkan melalui mandatori PSR sehingga semua perkebunan sawit rakyat terdorong. Baca juga: Tenggat 24 Februari Lewat, RI Tagih Komitmen UE atas Sengketa SawitAdapun tanaman pada perusahaan perkebunan sawit diremajakan secara berkala. “Utamanya untuk sawit rakyat ya, saya bicara sawit rakyat karena kalau kalau sawit perusahaan sudah otomatis mereka replanting,” ucap Eddy. Bun (compas.com)





