Sistem Plasma Solusi untuk Menjaga Harga Sawit Petani Riau

Sebagian masyarakat Riau menggantungkan hidupnya dengan berkebun kelapa sawit. Sejak awal tahun 2000, banyak warga yang mengkonversi lahannya dengan tanaman ini karena nilai jual per kilogramnya saat itu yang sangat tinggi.

Namun sekarang, harga sawit selalu fluktuatif, bahkan terkadang jatuh pada level terendahnya. Beragam solusi pun dicari pemerintah supaya harga sawit selalu stabil sehingga bisa menjamin perekonomian masyarakat. Salah satunya dengan sistem plasma atau pola anak asuh dengan perusahaan.

Dengan sistem ini, tak hanya jaminan harga, mutu bibit dan buah yang dihasilkan juga terjamin sehingga meningkatkan pendapatan. Setiap petani dengan pola ini kemudian menghimpun diri ke ragam lembaga, salah satunya Asosiasi Petani Kepala Sawit PIR Indonesia (Aspekpir).

Sejak didirikan pada tahun 1996, sudah ada 74 ribu petani yang bergabung dalam Aspekpir.

"Luasan lahannya 137.000 hektar, ada 162 koperasi dan 400 kelompok tani. Totalnya 74 ribu," kata Ketua DPP Aspeksi Nasional Aspekpir, Setiyono di Pekanbaru, Rabu (19/8) siang.

Dia menjelaskan, lembaga ini bertujuan menjaga kebersamaan antara petani sawit, termasuk di Riau. Harga sawit bagi anggota juga terjaga meski secara nasional nilai ekonomisnya jatuh.

"Dengan pola kerjasama dengan perusahaan dan asosiasi ini, harganya tetap terjaga. Kalau tidak bergabung, petani juga bisa. Tapi kalau harga sawit jatuh, ya jatuh kali," sebut Setiyono.

Tak hanya menjamin harga, Aspekpir juga mendorong program pemerintah pusat untuk replentasi sawit. Di Riau, pemerintah menargetkan seluas 30 ribu hektar lahan, tapi yang terealisasi baru 4 ribu.

"Seharusnya ada 80 ribu yang dideportasi, tapi target tahun ini 30 ribu oleh pemerintah," katanya.

Menurut Setiyono, ada beberapa kendala replentasi sawit di Riau. Salah satunya sawit yang berusia tua masih produktif dan harganya masih sangat stabil serta terbilang tinggi.

"Meski demikian, kami tetap mendorong replentasi untuk mendukung program pemerintah dalam peremajaan," sebut Setiyono. [RN]

Sumber : kumparan.com