Petani Kelapa Sawit Berharap Program B20 Dongkrak Harga TBS

Jakarta - Petani kelapa sawit berharap program biodiesel 20% (B20) ini bisa menimbulkan multiplier effect bagi produsen minyak sawit mentah atawa Crude Palm Oil (CPO) maupun harga Tandan Buah Segar (TBS) di pasar domestik.

Sebab, program B20 diharapkan akan meningkatkan pembelian CPO di pasar domestik oleh perusahaan penjual bahan bakar minyak (BBM), sehingga pasokan ekspor CPO di pasar global berkurang dan bisa memicu kenaikan harga CPO.

Rino Afrino, Wakil Sekjen Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) optimis implementasi B20 bakal ikut menggerek harga tandan buah segar (TBS) di tingkat petani. Ia mengatakan, optimisme ini berdasarkan pada program biodiesel sebelumnya yang sudah dirintis sejak 2015. Saat itu, produk tersebut terbukti ampuh mengangkat harga CPO dan TBS.

Sebelumnya, harga CPO dan TBS sempat anjlok, tapi perlahan-lahan kembali naik karena meningkatnya penyerapan CPO di dalam negeri untuk kebutuhan biodiesel.

"Saya perkirakan program B20 sekarang ini merupakan langkah strategis pemerintah sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia untuk mengangkat kembali harga minyak sawit,"Rino kepada KONTAN, Minggu (2/9).

Dalam catatan Rino, saat ini rata-rata harga CPO di pasar global US$ 530 per ton. Ia berharap berkat program B20 ini harga bisa terkerek menjadi US$ 630 per ton atau naik rata-rata US$ 100 per ton sesuai target yang ditetapkan pemerintah. Ia berharap harga TBS juga ikut terangkat.Saat ini, harga TBS ditingkat petani di Indonesia Rp 700 - Rp 1.200 per kilogram (kg).

Sementara harga TBS petani yang bermitra dengan industri pengolahan CPO sekitar Rp 1.300 - Rp 1.500 per kg. Nah dengan implementasi B20, Rino optimistis, harga TBS bisa naik hingga Rp 1.800 per kg di tingkat petani.

Sumber : kontan.co.id