Harga TBS Sawit Bakal Naik

Jakarta - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Provinsi Bengkulu menilai penerapan biodiesel 20% (B20) sebagai bahan campuran bahan bakar minyak (BBM) berpotensi meningkatkan harga minyak sawit (crude palm oil). Karena harga CPO naik, maka harga tandas buah segar (TBS) kelapa sawit pun bakal mengalami kenaikan. Ketua Gapki Bengkulu, John Siregar mengatakan, kenaikkan harga minyak kelapa sawit dikarenakan serapan dalam negeri lebih besar.

“Kalau B20 bisa jalan segera, berarti serapan dalam negeri akan naik hampir 6 juta ton. Secara teori akan mengurangi stok. Mestinya akan berpengaruh positif, tergantung seberapa cepat B20 ini diterapkan,” kata John, kemarin (2/9).

Menurutnya, konsumsi dalam negeri saat ini sekitar 2,5-3 juta ton dan sesudah program B20 berjalan makan akan meningkat menjadi 6 juta ton. Kebijakan mandatori B20 pun bisa meningkatkan harga jika implementasinya berjalan cepat dan mulus.

“Jadi, tergantung seberapa cepat implementasinya positif, dan mudah-mudahan juga September ini produksinya sudah tidak setinggi bulan lalu,” ujar John

Akan tetapi, lanjutnya, kinerja ekspor sawit pun diprediksi akan menurun seiring dengan konsumsi dalam negeri yang meningkat.”Kalau semua faktor bekerja bersama-sama, produksi mulai menurun dan implementasi jalan cepat, ya mungkin bisa,” tutup John.

Sementara itu, Kepala Perwakilan BI Provinsi Bengkulu, Endang Kurnia Saputra mengaku, ekspor kelapa sawit di Bengkulu mengalami peningkatan sebesar 10 persen. Sehingga tidak serta merta penyerapan CPO domestik akan mengurangi ekspor ke luar negeri.

“Pasar luar negeri masih membutuhkan CPO, jadi ekspor tetap meningkat, tujuan penyerapan CPO melalui B20 adalah untuk mengurangi tingkat impor minyak mentah dari luar negeri,” imbuh Endang.

Selain itu, penggunaan B20 juga akan mengurangi impor minyak, karena selama ini konsumsi solar hanya diwajibkan kepada kendaraan bersubsidi atau public service obligation (PSO) seperti kereta api. Nantinya, B20 akan wajib digunakan pada kendaraan non-PSO seperti alat-alat berat di sektor pertambangan, traktor atau ekskavator, termasuk juga diperluas ke kendaraan-kendaraan pribadi.”Dengan perluasan penggunaan akan mengurangi impor minyak dari luar negeri serta akan menghemat devisa negara,” terang Endang.

Pelaksanaan perluasan B20 yang akan berlaku untuk sektor pelayanan publik (PSO) dan non-PSO juga berpotensi menghemat devisa. Diketahui, dengan perluasan B20 pemerintah Indonesia mampu menghemat devisa sebesar 2 hingga 2,3 miliar dolar Amerika Serikat hingga akhir tahun ini.”Kita bisa menghemat devisa kira kira 2-2,3 miliar dolar AS hingga akhir tahun,” tutupnya(999)