Dapat Dukungan Petani, Tak Sulit Capai Target Peremajaan Sawit

Demi meningkatkan produktivitas nasional, pemerintah tengah mengeluarkan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) seluas 185 ribu hektare (ha) pada 2018 ini. Dukungan sejumlah pihak datang untuk menyukseskan program tersebut, salah satunya dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Perusahaan Inti Rakyat (ASPEKPIR) Indonesia.

“Pengembangan kelapa sawit saat ini berawal dari program PIR (Perusahaan Inti Rakyat) dan terbukti memberikan dampak positif juga terhadap negara dan industri,” kata Ketua ASPEKPIR Indonesia Setiyono dalam Konfrensi & Expo Kemitraan Petani Kelapa Sawit, (21/9/2018).

Dalam Konfrensi tersebut seluruh petani PIR yang tersebar di seluruh Indonesia, baik PIR-Bun, PIR-Trans, ataupun KKPA melebur menjadi satu dalam satu wadah dengan nama ASPEKPIR Indonesia. Dalam konfrensi tersebut, ASPEKPIR Indonesia berkomitmen untuk mendukung program PSR.

Setiyono mengatakan, dengan bergabungnya petani PIR dan KKPA, maka potensi yang dapat diremajakan bisa mencapai 617 ribu ha. Sehingga jika pemerintah menargetkan 185 ribu ha untuk peremajaan kelapa sawit rakyat, hal itu tidaklah sulit.

720 x 90 D Animated
“Jadi melalui jaringan koperasi-koperasi petani yang ada saat ini bisa digunakan untuk mendorong program PSR,” jelasnya.

Wakil Ketua Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Togar Sitanggang mengakui bahwa dengan kemitraanlah solusi untuk mendorong program peremajaan yang dimiliki pemerintah saat ini.

Ini karena petani-petani yang tergabung dalam koperasi yang rata-rata petani eks plasma memiliki
lahan yang telah clean and clear secara legalitas. Hal tersebut jauh berbeda kondisinya dengan petani swadaya yang rata-rata lahan tersebar secara sporadis.

Dengan demikian, pilihannya jatuh pada petani plasma kelapa sawit eks plasma yang sebelumnya telah bermitra dengan perusahaan dan lahannya btelah lunas sehingga telah menjadi lahan milik pribadi atau petani itu sendiri.

Jadi mau tidak mau yang didahulukan yaitu, petani yang clean and clear untuk lancarnya proses peremajaan sawit rakyat, dan demi peningkatan produktivitas perkebunan kelapa sawit milik petani. “Artinya kemitraan adalah sebuah solusi bagi petani,” tegas Togar.

Ketua Dewan Pengawas Badan Pengelola Dana Perkebunan Rusmas Heriawan bahwa dengan terbentuknya ASPEKPIR Indonesia ini, maka bisa mendorong program PSR.

Sebab, petani PIR memiliki data yang lebih lengkap, bukan sekadar clear and clean. Ini karena petani PIR memiliki konsep kemitraan atau partnership baik dengan perusahaan milik negara seperti PT Perkebunan Nusantara (PTPN) ataupun perkebunan swasta. (adl)

Sumber : indopos.co.id