Apksindo dan Aspekpir Mengangkat Gamal Nasir Sebagai Tokoh Petani Kelapa Sawit

  • 30 Mei 2018, 2:54 PM
  • Sawit

Asosiasi Petani Kelapa sawit Indonesia (Apkasindo) dan Asosiasi Petani Plasma Kelapa Sawit Perkebunan Inti Rakyat –Transmigrasi (Aspekpir Trans) – Riau memberikan penghargaan kepada Dirjen Perkebunan Gamal Nasir sebagai Tokoh Petani Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia.

Penghargaan diberikan oleh Ketua Apkasindo, Anizar Simanjuntak dan Ketua Aspekpir Tras- Riau, Setiyono dalam acara Seminar Nasional Kiat Sukses Replanting Kelapa Sawit yang diselenggarakan perkebunannews.com.

Dalam sambutanya Gamal Nasir menyatakan sangat terharu dengan penghargaan yang diberikan. Selama 6 tahun menjadi Dirjen diakui dia banyak berhubungan dengan petani baik kelapa sawit, tebu dan jarang sekali berhubungan dengan perusahaan.

“Pengusaha sama pikir tidak ada masalah, uangnya sudah banyak di Singapura. Justru petani ini yang ada di ICU yang harus ditolong. Saya ingin perkebunan kelapa sawit lebih berkeadilan, jangan sampai pengusahanya naik land cruiser sedang petaninya msaih naik sepeda ,” kata Gamal.

Lebih dari itu, menurut Gamal, moratorium merupakan keputusan Presiden yang harus dipatuhi. Artinya moratorium dengan syarat harus lebih berkeadilan bagi petani. Sambil moratorium berjalam maka semua kebun petani yang produktivitasnya rendah harus direplanting seluruhnya.

Jangan sampai ada yang ketinggalan. Haraannya setelah moratorium maka kebun milik petani produktivitasnya bisa tinggi dan hal ini akan mengangkat perekonomian petani mandiri.

Tidak perlu kuatir produksi akan menurun akibat moratorium. Indonesia sudah memiliki kebun kelapa sawit paling luas di dunia. Tidak ada negara lain yang sanggup memiliki lahan sebesar itu. Sekarang lebih baik fokus pada peningkatan produktviitas. “Bahkan yang harus diwaspadai adalah Ghana, Pantai Gading yang mulai menebang kakao diganti dengan kelapa sawit,” himbau Gamal.

Bahkan, Gamal menjelaskan saat ini uas lahan yang dimiliki pengusaha sudah cukup besar karena selama ini terus ekspansi. Kondisi tersebut berbeda dengan lahan yang dimiliki oleh BUMN yang justru sampai sekarang masih stagnan. Sedang kebun kelapa sawit milik rakyat meskipun luas tapi produktivitasnya sangatlah rendah.
“Hal itulah yang seharusnya dipikirkan, bagaimana bisa meningkatkan produktivitas tanaman milik rakyat,” terang Gamal.

Disisi lain, Gamal juga menyarankan kepada Badan Pengeloa Dana Perkebunan Sawit Kelapa Sawit (BPDP-KS) untuk memperbesar porsi replanting, khususnya petani swadaya atau mandiri. Hal ini mengingat banyak lahan milik petani swadaya yang sudah tua atau berumur diatas 25 tahun.

Sebab, dengan memperbesar replanting petani kelapa sawit maka bisa lebih meningkatkan ekonomi petani. Bahkan bukan hanya petani yang terkena dampaknya dengan melakukan replanting kepada petani, tapi juga negara. Hal ini karena dengan melakukan replanting maka produktivitas lahan milik petani meningkat dan ini otomatis juga mendomngkrang produktivitas nasional.

“Saya berharap porsi untuk replanting petani bisa diperbesar sehingga produktivitas lahan milik petani yang berdampak kepada produktivitas nasional bisa meningkat,” jelas Gamal.

Sementara itu, Ketua Umum Apkasindo, Anizar Simanjuntak menyatakan keputusan menjadikan Gamal sebagai Tokoh Petani Perkebunan kelapa sawit sebagai penghargaan atas bimbingan yang diberikan selama ini. Jauh sebelum jadi Dirjen Gamal selalu memperhatikan petani.

Terbukti, ketika menjadi Dirjen setiap ada masalah bisa langsung dikontak dan berusaha mencari jalan keluar. “Beberapa kebijakan yang pro petani adalah penolakan terhadap Indonesia Palm Oil Pledge (IPOP) yang membuat petani kesulitan menjual tandan buah segar (TBS) ke PKS,” ucap Anizar.

Sedangkan SKetua Aspekpir Trans-Riau, Setiyono menyatakan Gamal sejak awal sudah menyusun konsep PIR ketika masih diproyek Perkebunan Inti Rakyat (PIR). PIR yang ada sekarang tidak lepas dari peranan Gamal. Dari beberapa dirjen yang selama ini berhubungan dengan ASPEKPIR, tidak berarti yang lain tidak baik, maka Gamal merupakan petani.

Setiap persoalan bisa langsung ditanggapi. Contohnya sejak tahun 2006 sudah waktunya replanting dan Aspekpir sudah mengajukan ke perusahaan inti untuk melakukanperemajaan tidak ada tanggapan sehingga peremajaan terlambat.

Tahun 2010 dengan difasilitasi Gamal Nasir sebagai Dirjenbun akhirnya petani bisa mencapai kata sepakat dengan PTPN V dan replanting pertama sudah dimulai. “Karena itu ASPEKPIR menangkat dan Gamal Nasir sebagai Tokoh dan Pembina,” pungkas Setiyono. S/YIN